Thursday, 12 June 2014

Indonesia Tidak Perlu Kapal Induk Seperti AS


Indonesia Tidak Perlu Kapal Induk Seperti AS
Dinas Penarangan Armada Timur
Kapal Perang Republik Indonesia di Samudra Hindia. 
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nicolas Timothy
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tim Ahli Bidang Maritim JKW4P, Edi Prasetionomengatakan Indonesia tidak memerlukan kapal induk seperti yang dimiliki Amerika Serikat untuk memperkuat Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) Republik Indonesia di bidang kemaritiman lantaran harga yang mahal.
"Ndak lah. Kapal induk satu saja 2 miliar dolar. Itu yang biasa. Kalau kapal induk seperti milik Amerika Serikat bisa 5 sampai 6 miliar dolar," ujar Edi di kantor pemenangan JKW4P, Jalan Cemara Nomor 19, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (12/6/2014).
Selain harga yang mahal, Edi mengungkapkan kapal induk tidak bisa berjalan sendiri. Kapal besar itu memerlukan bantuan kapal-kapal kecil untuk memberi dorongan untuk melaut, sehingga menambah biaya operasional yang tentu tidak murah.
"Dan kapal induk itu enggak jalan sendiri. Dalam operasi sehari-hari, sekian puluh kapal di sisi kiri kanannya, itu berapa biayanya. Besar banget. Biaya operasionalnya saja bisa 10 miliar dolar per tahun," kata Edi.
Menurut Edi, karakteristik sistem senjata Indonesia bukanlah menyerang, sehingga keberadaan kapal induk yang cenderung digunakan untuk keperluan menyerang atau ekspansi tidak diperlukan.
"Dari segi kepentingan pertahanan, kapal induk hanya digunakan oleh negara yang tujuannya power project, kata kasarnya ekspansi. Kalau itu endak, enggak usah. Cukup kita punya kapal-kapal yang mampu menjaga batas-batas negara kita," ucap Edi.

Sumber tribunenews

Kekuatan TNI AU di Tahun 2014 Sudah Mumpuni


Bagi bangsa Indonesia, perang merupakan jalan terakhir yang harus ditempuh, namun menyiapkan diri untuk siap perang, adalah langkah yang cerdas untuk menjamin situasi damai. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI I.B. Putu Dunia pada beberapa kesempatan. Kasau juga menyampaikan bahwa Dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, tantangan yang dihadapi TNI Angkatan Udara akan semakin berat. Kemajuan Teknologi semakin pesat, peran kekuatan udara dalam perang modern semakin diperlukan.


Sebagai salah satu komponen pertahanan negara, TNI Angkatan Udara terus tumbuh berkembang seiring dengan dinamika pembangunan nasional dan perkembangan lingkungan strategis. maka kebijakan yang ditempuh TNI Angkatan Udara yakni “Minimum Essensial Force” yang merupakan jawaban tepat untuk dilaksanakan. Kita berharap, melalui pelaksanaan Renstra 5 tahunan, pertumbuhan dan perkembangan TNI Angkatan Udara ke depan mampu mewujudkan kekuatan tersebut, itulah sambutannya dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional.


Memang harus diakui bahwa kekuatan militer yang tangguh dari sebuah negara merupakan detterent power untuk mencegah serangan dari musuh atau calon musuh. Oleh karena itu kita kagum dengan upaya Kabinet Indonesia Bersatu Jilid-II dibawah Presiden SBY yang memutuskan meningkatkan kemampuan militer (TNI) dalam konsep MEF yang akan dilaksanakan melalui rencana strategis 5 tahunan.


Kementerian Pertahanan (Kemhan) optimistis pencapaian kekuatan pokok minimal (MEF) lebih cepat lima tahun dari target yang telah ditentukan. Jika awalnya pencapaian MEF pada 2024, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro yakin bisa tercapai 2019. "Awalnya pencapaian MEF ditargetkan selesai dalam tiga kali renstra (2009-2024). Namun, ternyata bisa dicapai dalam dua kali renstra (2009-2019)," kata Menhan seusai Rapat Pimpinan di Kantor Kementerian Pertahanan (Kemhan), Jakarta.


Pencapaian MEF yang lebih cepat lima tahun dari yang ditargetkan ini merupakan sebuah terobosan. Keberhasilan ini tak lain berkat besarnya APBN yang digelontorkan ke Kemhan. Jelas upaya tersebut merupakan kerja keras Menhan beserta jajarannya dalam mensinergikan sumber dana yang ada di negara dalam meningkatkan kekuatan dan kemampuan TNI, khususnya dalam menyikapi perkembangan situasi kawasan. Menhan pun meyakini kekuatan alutsista TNI AU hingga semester I-2014 mendatang dalam rangka kekuatan pokok minimum (Minimum Esensial Force) akan mencapai 40 persen. Hanya yang perlu mendapat perhatian adalah kebutuhan biaya operasional penambahan alutsista yang demikian banyak dan mendadak, jelas akan menyebabkan membengkaknya anggaran, disamping anggaran pemeliharaan.


Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengapresiasi kinerja jajarannya yang bekerja keras dalam pengadaan alutsista. Dia optimistis bisa mempercepat pencapaian MEF pada 2019. Saat ini pihaknya terus melakukan tiga hal besar dalam upaya pencapaian MEF, antara lain pertama penghapusan alat utama sistem senjata (alutsista) yang sudah tak bisa lagi digunakan. Kedua, peningkatan kemampuan alutsista yang saat ini dalam kondisi kurang maksimal. Dan ketiga, pengadaan alutsista baru.


Pada Tahun 2014, walaupun pemerintahan sudah berganti, Indonesia tinggal menunggu kedatangan alutsista. Kontrak-kontrak pengadaan sudah harus selesai di 2013. Itulah harapan pejabat terkait pertahanan pada akhir masa jabatannya. Mereka hanya berharap pada kabinet selanjutnya masterplan kekuatan pokok minimum (MEF) tetap dipertajam. Pada awal 2013, pemerintah menganggarkan APBN sebesar 77 triliun rupiah. Khusus untuk alutsista, pemerintah menyisihkan 36 triliun rupiah dari anggaran itu. Presiden sudah berkomitmen akan terus mengucurkan dana sebesar 156 triliun rupiah hingga 2014 di luar pos APBN. Penggelontoran anggaran yang demikian besar jelas mengejutkan negara-negara tetangga, mengingat daya pukul TNI AU mendadak meningkat beberapa kali lipat.


TNI Angkatan Udara akan terus menambah jumlah alat utama sistem senjata (alutsista) yang dimilikinya, bahkan ada 102 alutsista baru pada rencana strategis pembangunan TNI AU tahun 2010-2014. Alutsista baru tersebut meliputi pesawat tempur F-16, T-50, Sukhoi, Super Tucano, CN-295, pesawat angkut Hercules, Helikopter Cougar, Grob, KT-1, Boeing 737-500. TNI AU juga akan melengkapi alutsista modern, seperti radar pertahanan udara, peluru kendali jarak sedang.


Dalam menindak lanjuti rencana kedatangan alutsista (Alat Utama Sistim Senjata) yang baru, TNI Angkatan Udara berencana menambah tiga skadron udara, yakni skadron udara tempur, angkut, dan pesawat intai menyusul program pembelian 102 unit pesawat berbagai jenis. "Saat ini tengah disiapkan skadron udara 16 di Pekanbaru (Riau), pembangunan skadron udara di Makassar, Sulawesi Selatan dan skadron udara Pontianak, Kalimantan Barat," kata Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia pada peringatan HUT TNI AU, 9 April 2013.


Skadron udara 16 di Lanud Roesmin Nuryadin, Pekanbaru merupakan home base pesawat tempur F-16 yang berasal dari hibah dari Amerika Serikat. Selama ini F-16 Falcon bersarang di fighter base Lanud Iswahyusi Madiun. "Sekarang ini sudah mulai bangun shelter untuk pesawat. Tahun depan akan datang 8 unit (dari 24 unit)," kata Kasau. Pada bulan Oktober 2011, DPR menyetujui hibah F-16 akan ditingkatkan mirip dengan Blok terbaru varian 50/52. TNI-AU juga mengalami kemajuan dalam reaktivasi seluruh 10 unit F-16 Fighting Falcon Blok 15 OCU.


Pembangunan skadron udara untuk pesawat angkut di Makassar, Sulawesi Selatan, akan diisi pesawat Hercules C-130H, berasal dari pembelian serta yang berasal dari hibah dari Australia. TNI AU akan mengganti Fokker F-27, dimana telah dipesan 9 CASA C-295 Spanyol, dalam memproduksi bersama PT Dirgantara Indonesia. Sementara itu di Lanud Supadio Pontianak akan menjadi markas pesawat tanpa awak (UAV). "Skadron UAV di Pontianak sudah disiapkan, tinggal menunggu pesawatnya saja. Mudah-mudahan segera datang," kata Putu Dunia.


Saat ini, TNI AU telah memiliki empat unit pesawat tempur taktis Super Tucano, sehingga diharapkan TNI AU memiliki satu skadron pesawat Super Tucano yang ditempatkan di Skadron Udara 21 Lanud Abdulrahman Saleh, Malang. Pada 2013 diharapkan akn berdatangan pesanan super Tucano lainnya ke Lanud Abdulrahman Saleh Malang.


Untuk melengkapi pesawat tempur jenis Sukhoi di Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin sebanyak 16 Unit di Tahun 2013. Diungkapkan oleh Wamenhan Sjafrie Samsuddin, “Sesuai dengan perencanaan semestinya tahun 2014, akan tetapi khusus skadron 11 yang alutsistanya pesawat tempur Sukhoi kita akan dorong di tahun 2013 sudah lengkap. Jadi kesimpulan persiapan bahwa di dalam 2014 ini kita akan lengkap skadron 16 unit dan sudah mengudara semua, “ katanya, Kamis (18/4) saat meninjau Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Dijelaskan oleh Wamenhan, dengan datangnya 2 unit pesawat Sukhoi jenis SU-30 MK2 pada bulan Februari lalu, saat ini TNI AU sudah memiliki 12 unit pesawat jet tempur Sukhoi, Su-27 SKM dan Su-30 MK2.


TNI AU akan mendapat 16 Pesawat latih Grob G120TP buatan Jerman. Keempat pesawat Latih Dasar (LD) dengan registrasi LD-1201, LD-1202, LD-1203, dan LD-04 yang sudah di roll out dikirim ke Indonesia menggunakan kapal laut dan akan tiba di Indoensia sekitar akhir Juli 2013. Pesawat Grob G 120TP dibeli Pemerintah Indonesia untuk digunakan TNI AU sebagai pengganti pesawat latih mula (LM) AS-202 Bravo dan pesawat Latih Dasar (LD) T-34C yang telah digunakan selama lebih 30 tahun. Ke-18 pesawat dijadwalkan pengirimannya akan selesai tahun 2014.


Selain itu dalam waktu dekat, TNI AU akan segera diperkuat satu skadron yang terdiri dari 16 pesawat latih tempur ringan T50 Golden Eagle dari Korea Selatan. T-50 buatan Korea dan Lockheed tersebut akan menggantikan peran pesawat Hawk MK-53 sebagai pesawat tempur latih. Juga sebagai pesawat transisi bagi penerbang Sukhoi.


Di AU Korea (Republic of Korea Air Force), pembuatan T-50 ini awalnya dimaksudkan untuk mengembangkan pesawat latih supersonik, untuk melatih dan mempersiapkan pilot (transisi) untuk pesawat tempur KF-16 dan F-15K. T-50 dipergunakan untuk menggantikan pesawat latih T-38 dan A-37 dipergunakan oleh ROKAF). T-50 mulai operasional awal dari 28 Juli-14 Agustus 2003. Design dari T-50 Golden Eagle sebagian besar berasal dari F-16 Fighting Falcon, dan mereka memiliki banyak kesamaan ; penggunaan mesin tunggal, kecepatan, ukuran, biaya, dan berbagai kelengkapan senjata.


T-50 dilengkapi dengan Honeywell H-764G sistem navigasi inersial global dan HG9550 radar altimeter. Pesawat ini adalah pesawat latih pertama yang memiliki fitur digital kontrol fly-by-wire.


T-50 Golden Eagle menggunakan engine tunggal General Electric F404-102, turbofan lisensi produksi Samsung Techwin, di upgrade dengan Full Authority Digital Engine Control (FADEC) sistem yang dikembangkan bersama oleh General Electric dan Korea Aerospace Industries. Pesawat ini memiliki kecepatan maksimum Mach 1,5. TA-50 adalah versi yang lebih dilengkapi dengan senjata berat dibandingkan T-50, dalam latihan tempur dan peran penyerang ringan. Pesawat ini dilengkapi dengan radar Elta EL/M-2032. TA-50 dirancang untuk beroperasi sebagai platform tempur penuh untuk senjata presisi terpadu, rudal udara ke udara dan rudal udara ke darat. TA-50 dapat berfungsi juga untuk misi pengintaian, bantuan tembakan udara dan fungsi perang elektronik.


TA-50 dipersenjatai dengan versi meriam tiga laras M61 Vulcan kaliber 20 mm. Dapat dipasang rudal AIM-9 Sidewinder di wingtip. Berbagai senjata tambahan dapat dipasang pada underwing. Compatible air-to-surface weapons, rudal AGM-65 Maverick, Hydra 70 dan peluncur roket LOGIR, CBU-58 dan Mk-20 bom cluster, dan berbagai bom Mk-82, 83, dan 84.

TNI AU akan memiliki satu skadron Golden Eagle yang terdiri dari 12 pesawat T-50 (Advanced trainer version) dan 4 pesawat TA-50 (Tactical trainer/light attack version). Dengan home base di Lanud Iswahyudi Madiun. Pesawat T-50 akan dicat dan design warna biru kuning, warna yang mirip dengan yang dipakai oleh tim aerobatic Elang Biru (F-16). Kemungkinan T-50 juga akan dipakai menjadi salah satu generasi penerus tim aerobatik kebanggaan TNI AU.




Menurut ilmu intelijen, dalam menghitung lawan atau calon lawan, yang harus diukur dari sebuah negara adalah kekuatan, kemampuan dan kerawanan militer. Dari sisi perbandingan kekuatan udara, dilihat dari jumlah dan jenis pesawat. Kemudian kemampuan baik sebagai unsur penyerang, strategis dan taktis serta kemampuan pertahanan. Seperti yang dikatakan oleh Kasau, pada saat damai maka kekuatan militer harus dibangun untuk persiapan perang. Artinya, kita harus melihat dan mengukurOrder of Battle negara lain.


Nah kini dari sisi kekuatan udara, Indonesia secara mengejutkan hanya dalam dua renstra telah mampu membangun kekuatan dan kemampuan yang jelas diperhitungkan oleh negara-negara tetangga. Ini semua jelas tidak terlepas dari membaiknya kondisi perekonomian Indonesia, sehingga anggaran pertahanan, khususnya pengadaan alutsista telah meningkat dengan pesat. Pada tahun 2014, Indonesia mempunyai daya pukul dan daya pertahanan yang mumpuni apabila terjadi konflik dengan negara lain.


Seperti telah dikemukakan, TNI AU mengemban tugas yang tidak ringan yaitu harus menyiapkan sumber daya manusia, khususnya para penerbang pesawat-pesawat modern tersebut. Penyiapan skill personel untuk mengawaki pesawat masa kini bukan sebuah pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan penerbang yang profesional dan berkemampuan tinggi, disamping adanya tenaga-tenaga pendukung lainnya yang mumpuni. Kegagalan atau terbatasnya dukungan anggaran operasional, pemeliharaan serta penyiapan personil yang berkemampuan memadai menjadi inti dari manajemen TNI AU yang sedang menuju sebagai "First class Air Force." Penulis percaya pemerintahan masa kini sudah memperhitungkan kemungkinan tersebut, hingga tidak menjadi beban tersendiri bagi pemerintahan selanjutnya, khususnya bagi TNI AU. Yang jelas sebagai warga "the blues" penulis ikut bangga negara memiliki "daya kepruk udara" yang mendadak menjadi luar biasa.


Beberapa negara tetangga jelas merasa gelisah, karena beberapa pengamat militer internasional mengatakan adanya indikasi, Indonesia akan menuju kepada kekuatan udara superior, akan mengarah untuk memiliki sepuluh skadron Su-27/Su-30 dimasa mendatang. Belum lagi kalau pemikiran pejabat pertahanan pemerintahan mendatang bergeser dan meningkat, ingin memiliki jenis Sukhoi Su-35. Siapa yang tidak gentar? Jadi, jangan sepelekan Indonesia. Itu saja kesimpulannya. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa melindungi TNI AU sebagai salah satu komponen pertahanan negara yang kita cintai bersama, Aamiin.



Sumber : TNI AU

Wednesday, 11 June 2014

TNI AU Bangun Landasan Pacu Pesawat di Paloh, Kalimantan Barat


10 Juni 2014

Paloh, Kalimantan Barat (image : GoogleMaps)

TNI AU Bangun Landasan Pacu Pesawat Tempur di Perbatasan Malaysia

Samarinda - Pasca pembangunan tiang pancang dan manuver helikopter Malaysia di perairan Tanjung Datok, Kalimantan Barat (Kalbar), TNI AU berencana memperkuat pertahanan udara. Landasan pacu eks peninggalan Belanda bakal difungsikan kembali untuk pendaratan pesawat tempur.

"Ini instruksi Panglima TNI untuk memfungsikan kembali landasan pacu di Paloh, di perbatasan Malaysia menjadi landasan pangkalan AU," kata Asisten Operasi KASAU, Marsekal Muda Sudipo Handoyo, kepada wartawan saat berada di Lanud Supadio Pontianak, Kalbar, Senin (9/6/2014).

Di Paloh, memang memiliki landasan pacu sepanjang 750 m dan telah dibersihkan dalam 5 hari terakhir ini. Landasan pacu itu sendiri dibangun sekitar 1978 silam dan berada dalam posisi strategis di perbatasan Kalbar dan Malaysia.

Sudipo menerangkan, di Temajuk, Paloh, Kabupaten Sambas, Kalbar, TNI AU juga akan menempatkan 500 personelnya sebagai penambahan kekuatan di pangkalan TNI AU.

"Akan ada 500 personel di Temajuk setingkat batalion. Penguatan ini sebagai bentuk antisipasi provokasi dari Malaysia. Kita lakukan survei untuk analisis sejauh mana kekuatan yang dibutuhkan," ujar Sudipo.

Tidak hanya untuk TNI AU, lahan seluas 100 hektar juga tengah dipersiapkan untuk lahan markas TNI AL dan TNI AD. Dengan begitu, seluruh satuan akan ditempatkan di perbatasan utara Kalbar dengan Malaysia.

"Landasan pacu Pangkalan AU yang kita benahi nanti akan memiliki panjang hingga 2.500 meter dan bisa didarati Boeing," tegasnya.

Pemerintah RI sempat memprotes pembangunan 3 tiang pancang suar oleh Malaysia di perairan Tanjung Datok, Sambas, Kalbar. Nelayan pun takut untuk melaut pasca pembangunan itu. Akhirnya melalui pertemuan dan pembicaraan kedua negara baru-baru ini, Malaysia menyepakati untuk menghentikan pembangunannya.

Kedatangan Sudipo di Lanud Supadio, turut didampingi oleh Pangkoops AU 1 dan Dankorpaskhas serta Pangdam XII Tanjungpura Mayjend TNI Ibrahim Saleh. Selanjutnya dia bersama rombongan menuju ke Temajuk, Kabupaten Sambas, untuk mengecek lahan pembangunan pangkalan AU di wilayah itu.

(Detik)

Sunday, 8 June 2014

Puncak Latgab TNI 2014, Seluruh Kekuatan Dikerahkan


SI : Puncak Latihan Gabungan TNI tahun 2014 digelar hari ini di kawasan Asembagus, Situbondo, Jawa Timur. Seluruh kekuatan TNI AD, TNI AL dan TNI AU dikerahkan hari ini.

Reporter merdeka.com, Ramadhian Fadillah dan Fotografer M Luthfi Rahman mengikuti rangkaian kegiatan latihan ini di Situbondo, Rabu (4/6).

Rencananya, serangan ke Situbondo dimulai dengan pendaratan tank-tank amfibi dari KRI Makassar ke bibir pantai Banongan. Setelah itu artileri Marinir menghajar daerah sasaran.

Barulah pasukan lintas udara dari Yonif Linud 501 dan 502 melaksanakan penerjunan di kawasan Asembagus.

Selanjutnya giliran tank-tank Scorpion Kavaleri TNI AD bergerak mendukung pasukan infanteri Brigif 17. Mereka juga didukung bantuan tembakan artileri medan TNI AD.

Di titik lain, belasan Helikopter Penerbad melakukan serangan dan melaksanakan operasi mobile udara.

8 Pesawat tempur Sukhoi SU 27/30 , 6 jet F-16 serta 10 Hawk 100/200 juga memberikan bantuan tembakan dari udara ke darat.

Total Latihan Gabungan ini melibatkan 15.108 personel TNI. Serangan sudah dimulai sejak pukul 05.30 Wib pagi ini.
Serangan Dimulai, Kapal Perang Dan Pesawat TNI AU Bom Situbondo 
Matahari baru saja terbit di Pantai Banongan, Situbondo, Jawa Timur. Barisan kapal perang TNI AL yang semalam melakukan pertempuran laut mulai memasuki perairan Asembagus. Puncak Latihan Gabungan TNI tahun 2014 dimulai tepat pukul 05.30 WIB, Rabu (4/6).

Dari KRI Makassar meluncur belasan tank BNP3F. Tank Amfibi ini berenang dari lepas pantai menuju sasaran. Deruman mesin dan asap tebal terlihat saat kendaraan lapis baja buatan Rusia itu menanjak mendaki bukit pasir di pantai.

Sementara belasan kapal perang lain bersiaga menjaga keunggulan posisi di laut lepas. Dari pantai, posisi mereka terlihat jelas. Reporter merdeka.com, Ramadhian Fadillah dan Fotografer M Luthfi Rahman mengikuti rangkaian kegiatan latihan ini di Situbondo.

Pukul 06.00 WIB, Tiga buah Super Tucano TNI AU mulai mendekati sasaran. Mereka kemudian menghujani pantai Banongan dengan bom. Ledakan menggelegar terdengar disusul bola api besar.

Di langit dua pesawat Sukhoi terus melakukan manuver. Mereka bertugas mengawal operasi tempur laut dan pendaratan.

Pukul 06.10 WIB, kapal-kapal perang TNI AL mulai memberikan bantuan tembakan dari meriam-meriam mereka. Ledakan demi ledakan terus terdengar dari arena latihan gabungan.

Hingga berita ini diturunkan, meriam kapal masih terus menembak ke arah pantai.
Roket Dan Meriam Marinir Menyalak, Situbondo Bergetar 
Serangan demi serangan dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI terus berlanjut. Kali ini giliran artileri Marinir yang beraksi.

Dari KRI Makassar, dua buah RM-70 Grad multilaras dan empat Howitzer MK-2 105 mm diangkut ke pantai dengan menggunakan kapal dan kendaraan amfibi.

Persenjataan itu melengkapi sebuah RM-70 Grad dan sebuah meriam yang telah bersiaga di pantai.

Pasukan dari Resimen Artileri I Marinir segera menyiapkan persenjataan tersebut. Kurang dari 15 menit, semuanya siap digunakan.

Reporter Ramadhian Fadillah dan Fotografer M Luthfi Rahman mengikuti rangkaian kegiatan latihan ini di Situbondo, Jawa Timur, Rabu (4/6).

Pukul 07.00 WIB pasukan marinir mulai menembakkan howitzer. Meriam menggelegar melontarkan peluru 105 mm. Puluhan kali howitzer MK-2 menyalak. Tanah pun bergetar saat tembakan menghancurkan sasaran.

Setelah Howitzer, giliran RM 70 Grad multilaras yang beraksi. Pelontar roket ini masing-masing menembakkan 30 roket hanya dalam hitungan detik. Suaranya menggelegar dan membuat telinga sakit.

Dibanding Howitzer, RM-70 memiliki jangkauan yang lebih jauh dan kemampuan menghancurkan lebih unggul. Senjata andalan artileri Marinir ini mampu menghancurkan kawasan seluas 3 hektar.

Hampir 30 menit pasukan Marinir terus melaksanakan tembakan bantuan artileri di Situbondo.
Sukhoi Dan F-16 Jatuhkan Bom 2.7 Ton Di Asembagus 
Pesawat-pesawat tempur TNI AU melaksanakan misi penyerangan ke obyek-obyek strategis musuh. Mereka bertugas menghancurkan pangkalan bahan bakar minyak, pos komando musuh serta gudang senjata.

TNI AU mengerahkan 8 pesawat Sukhoi SU-27/30, 6 F-16, 10 Hawk 100/200, 2 F-5 dan 12 T-50.

Serangan udara dibuka oleh manuver formasi pesawat Sukhoi dan F-16. Mereka menjatuhkan bom 2,7 ton ke area sasaran yang ditentukan dalam Latihan Gabungan TNI tahun 2014.

Bom jatuh menggelegar mengenai target yang diasumsikan sebagai pos komando musuh.

Setelah itu satu persatu pesawat Hawk menjatuhkan bom di pos-pos komando musuh.

Pesawat-pesawat tempur ini pun melumpuhkan beberapa pesawat tempur lawan yang berusaha mengajar. Mereka juga melepaskan flare sebagai pengecoh rudal antipesawat udara musuh.

Reporter Ramadhian Fadillah dan Fotografer M Luthfi Rahman mengikuti rangkaian kegiatan latihan ini di Situbondo, Rabu (4/6).

Bantuan tembakan udara dari pesawat tempur ini besar artinya dalam sebuah pertempuran. Target-target yang tak terjangkau meriam atau tank dapat dengan mudah dihancurkan lewat udara.

Sebelumnya pesawat Super Tucano sudah beraksi pagi tadi. Pesawat ini menghancurkan pertahanan musuh di garis pantai guna mendukung pendaratan Marinir.
Latgab TNI 2014 Habiskan Anggaran Ratusan Miliar
Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menjelaskan biaya Latihan Gabungan TNI 2014 bisa mencapai ratusan miliar. Biaya Rp 30-40 miliar rupanya hanya habis untuk biaya logistik selama latihan.

"Misalnya rudal itu kita tembakkan. Ada yang harganya Rp 4 M," kata Panglima TNI Jenderal Moeldoko di Situbondo, Jawa Timur, Rabu (6/4).

Moeldoko menambahkan biaya amunisi dan pengeluaran lain masih perlu dihitung. Dia belum bisa memastikan jumlahnya.

"Nanti kita hitung berapa ratus miliar habisnya," kata dia.

Jenderal bintang empat ini menambahkan Latgab 2014 jauh lebih besar dari Latgab sebelumnya. Jumlah personel, helikopter, maupun ranpur nyaris dua kali lipat.

Sementara itu Menhan Purnomo Yusgiantoro mengaku puas dengan apa yang ditunjukan TNI dalam Latgab.

"Latgab ini ingin menciptakan TNI profesional, modernisasi alutsista, tujuannya bisa mempertahankan keutuhan bangsa," kata Purnomo
RM-70 Grad Multilaras Si Penghancur Dari Garis Pantai
Truk besar beroda delapan pengangkut roket itu tampak gagah di Pantai Banongan, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur. Sosoknya kekar dan garang.

Itulah RM-70 Grad Multilaras, peluncur roket kebanggaan Korps Marinir TNI AL. Jika tabung peluncur terisi penuh, ada 40 roket yang siap ditembakan. Roket ini bisa menjangkau jarak 20 km.

"40 Roket itu bisa menghancurkan area seluas tiga hektar," kata Wakil Komandan Resimen Artileri I Marinir Letkol F Simanjorang kepada merdeka.com , Selasa (3/6).

RM-70 Grad dioperasikan empat personel. Kendaraan ini pun bisa lincah bergerak melintasi rintangan dengan kemiringan 40-50 derajat.

Resimen Artileri Marinir memiliki 18 unit senjata mematikan buatan Republik Ceko ini sejak tahun 2004. Menjadi salah satu andalan Resimen Artileri Marinir.

Selain RM-70 Grad, Marinir juga mengandalkan meriam Howitzer MK-2 berkaliber 105 mm. Senjata buatan Prancis tersebut mampu menjangkau jarak 17,5 km.

Butuh enam orang untuk menembakkan meriam tarik. Untuk perpindahan posisi, meriam ini ditarik truk. Karena itu disebut meriam tarik.

Dalam operasi tempur amfibi, Artileri Marinir memegang peran penting untuk mendukung gerak laju pasukan. Mula-mula tank-tank kavaleri Marinir mendobrak masuk pantai musuh terlebih dahulu. Setelah itu baru pasukan Marinir menyerbu dari garis pantai.

Saat itulah artileri mengambil posisi. Mereka menembak sesuai permintaan pasukan infanteri dan kavaleri yang sedang bergerak maju.

Tembakan kanon dan roket dari artileri ini akan melemahkan kedudukan musuh. Pasukan pun bisa terus melaju ke sasaran.
Berikut liputannya  :




Sumber : Merdeka

Tuesday, 3 June 2014

PAL: Realisasi Kapal Perang Filipina Tunggu Desain




Strategic Sealift Vessel (image : PAL)

Surabaya (Antara Jatim) - PT PAL Indonesia meyakini segera merealisasikan dua unit kapal perang jenis "Landing Platform Deck/LPD" pesanan Pemerintah Filipina karena proses pembangunannya saat ini memasuki tahap perencanaan desain.

"Oleh sebab itu, kami masih menunggu permintaan desain dari Pemerintah Filipina. Apakah rancangannya beda ataukah sama dengan LPD milik TNI AL," kata Kepala Humas PT PAL Indonesia, Bayu Wicaksono, dihubungi di Surabaya, Minggu.

Ia menyatakan, kapal perang "LPD" yang dibeli Filipina adalah jenis "Strategic Sealife Vessel/SSV". Kapal tersebut mempunyai ukuran panjang 122 meter.

"Secara ukuran, memang lebih panjang kapal LPD milik Indonesia yakni mencapai 125 meter," ujarnya.

Sementara itu, jelas dia, pemesanan kapal perang tersebut dilakukan melalui Kementerian Pertahanan (Kemenhan) kepada PT PAL Indonesia. Untuk penandatanganannya sudah dilakukan pada bulan Maret lalu.

"Keputusan Pemerintah Filipina dilatarbelakangi keberhasilan kami membangun kapal perang jenis LPD dan Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 meter pesanan dari Kemenhan," katanya.

Kini, tambah dia, pihaknya juga sedang melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Filipina. Hal itu bertujuan untuk mengetahui apa saja yang menjadi kebutuhan mereka.

(Antara)

China Offers LY-80 Missile System to Malaysia with ToT



LY-80/HQ-16 is a third generation Chinese land-based mid-range surface-to-air missile defense system with effective range of 1.5-30.0 km (photo : Army Recognition)

Khazanah, China Firm To Explore Green Energy Investment In Malaysia

BEIJING (China) (Bernama) -- The Malaysian government's investment arm Khazanah Nasional Bhd has signed a cooperation agreement with Beijing Enterprises Group Co Ltd to pursue strategic co-operation and explore investment opportunities in green and clean energy industries in Malaysia.

The agreement was among 11 signed at the China-Malaysia Business Summit, witnessed by Prime Minister Datuk Seri Najib Tun Razak and Vice Premier of China's State Council Wang Yang here today.

Under the agreement, Khazanah via its investee company CIMB Group would be involved in assisting Beijing Enterprises Group Ltd, a subsidiary of Beijing Enterprise Group Co, to issue ringgit denominated Islamic bonds to fulfil the financing needs of a water supply enhancement construction project in Terengganu.

Prior to the agreement, Khazanah had invested US$152 million in Beijing Enterprises Group, representing a 4.62 per cent stake.

Khazanah has also sold three of its wholly-owned waste incineration power generation projects in China to Beijing Enterprise Group Co for a total consideration of 650 million Renminbi.

Part of the consideration was settled by the issuance of 347 million shares, comprising a 23 per cent stake in Beijing Development (Hong Kong) Ltd, a subsidiary of Beijing Enterprise Group Co.

The prime minister also witnessed the signing of a memorandum of understanding (MoU) between Universiti Tun Razak and Beifang University of Nationalities for the exchange of students and staff members.

The MoU also includes collaborative research and possible exchange of academic papers, mutual assistance in the preparation of seminars, conferences and workshops, delivery of award and non-award courses, and an articulation arrangement which could involve credit for prior study.

Malaysian automotive company Naza Corporation Sdn Bhd signed a MoU with CSR Zhuzhou Electric Locomotive Co Ltd on the construction of a proposed transportation project in Malaysia.

Both companies also agreed on a strategic collaboration for the assembly of railway rolling stock in Malaysia.

LY-80 Missile System

Another MoU, between Aneka Bekal Sdn Bhd and Aerospace Long-March International Trade Co Ltd, sees the latter offering the LY-80 Medium-Range-Air-Defence Missile Weapon System bundled with transfer of technology.

Meanwhile, 1Malaysia Development Corporation Bhd signed an investment cooperation agreement with Export-Import Bank of China for the establishment of a joint venture partnership for the proposed development of projects in Malaysia on terms and structure to be mutually agreed to by the parties at a later stage.

Both parties intend to make the same contribution of up to US$300 million in tranches to be utilised for the development cost of projects.

The cost would be identified and agreed to by both parties subject to the outcome of joint feasibility, evaluation, relevant government and corporate approvals.

Another company, Pemaju Jaya Capital Sdn Bhd, signed a framework agreement on joint venture projects with Handan City Government to open a charter airline business in Malaysia to promote interoperability between the two countries.

The agreement also includes the expansion of Handan Airport phase three and the construction of Handan City Airport.

(Bernama)

Monday, 2 June 2014

Gladi Bersih Latgab 2014


Uji Taktis Latgab TNI 2014









 Sejumlah prajurit TNI melaksanakan uji taktis pra latihan gabungan TNI di Pusat Latihan Pertempuran Marinir V Baluran, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (31/5).

Dalam uji taktis tersebut TNI sudah menggunakan peluru tajam dan amunisi sebenarnya meski masih dilakukan secara parsial antara satu kesatuan dengan kesatuan lainnya. Skenario peperangan fiktif akan benar-benar dilaksanakan pada 4-5 Juni 2014


20140601_195629_tni-gunakan-6-heli-serang-dan-20-heli-serbu.jpg20140601_194956_tni-gunakan-6-heli-serang-dan-20-heli-serbu.jpg

Mobilisasi Udara Latgab TNI 2014

 
 
20140601_195416_tni-gunakan-6-heli-serang-dan-20-heli-serbu.jpg
 
20140601_195605_tni-gunakan-6-heli-serang-dan-20-heli-serbu.jpg
 Sejumlah helikopter bell 412 milik Puspenerbad TNI AD, melakukan mobilisasi udara (mobud) penurunan pasukan di Pusat Latihan Pertempuran (PLP) Marinir-5-Baluran, Asembagus, Situbondo, Jatim, Minggu (01/06). Mobilisasi udara tersebut dilakukan dalam gladi bersih untuk persiapan Latgab 2014 yang dilakukan oleh tiga matra TNI AD, AL dan AU.

Pergerakan Kompi Mekanis
 
Ranpur jenis BMP3F milik TNI AL bergerak menuju daerah pertempuran untuk mendukung pergerakan pasukan infanteri di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir, Asembagus, Situbondo, Jatim, Minggu (1/6). Sebanyak 36 unit BMP3F bersama ranpur lain dalam Kompi Mekanis dilibatkan dalam skenario penyerbuan pada Latihan Gabungan TNI 2014. 
 
Tank Scorpion Yonkav 8 TNI AD bergerak menuju daerah pertempuran untuk mendukung pergerakan pasukan infanteri di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir, Asembagus, Situbondo, Jatim, Minggu (1/6). Sebanyak 18 unit tank Scorpion bersama ranpur lain dalam Kompi Mekanis dilibatkan dalam skenario penyerbuan pada Latihan Gabungan TNI 2014.  
 Panser Anoa Di Latgab TNI 2014 

Sejumlah prajurit infanteri TNI AD mendapatkan pengarahan sebelum melakukan skenario penyerbuan pertahanan musuh menggunakan panser Anoa di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir, Asembagus, Situbondo, Jatim, Minggu (1/6). Sebanyak 13 unit panser produksi dalam negeri yang tergabung dalam Kompi Mekanis itu digunakan dalam Latgab TNI 2014 untuk mendukung pasukan infanteri dalam penyerbuan ke perkubuan musuh
Sejumlah prajurit infanteri TNI AD bersiaga dalam Panser Anoa untuk melakukan skenario penyerbuan pertahanan musuh menggunakan panser di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir, Asembagus, Situbondo, Jatim, Minggu (1/6). Sebanyak 13 unit panser produksi dalam negeri yang tergabung dalam Kompi Mekanis itu digunakan dalam Latgab TNI 2014 untuk mendukung pasukan infanteri dalam penyerbuan ke perkubuan musuh.
 
 
Peleton Intai (Tontai) Kikavtai 1/1/Kostrad mengendarai kendaraan tempur jenis Anoa dalam uji taktis pra latihan gabungan TNI di Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (31/5)

Prajurit Kostrad mengendarai kendaraan tempur jenis Anoa buatan PT Pindad dalam uji taktis pra latihan gabungan TNI di Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (31/5).
Prajurit Brigif 17/1/Kostrad mempraktekkan strategi menyerang musuh dalam uji taktis pra latihan gabungan TNI di Situbondo, Jawa Timur, Sabtu(31/5
 Uji Tembak Meriam



Prajurit TNI dari batalyon Artileri Medan (Armed) X Kostrad menembakkan meriam dalam uji taktis pra latihan gabungan TNI di Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (31/5). (Republika/Aditya Pradana Putra)Sumber Antars

Analisis : Latgab Pre Emptive Strike

















 : 
Hari ini dimulai Latgab TNI dengan pengerahan 16.000 tentara, 40 kapal perang, 35 jet tempur, 3 pesawat intai strategis, 14 Hercules, 45 Helikopter tempur berbagai jenis, ratusan tank berbagai jenis (Scorpion, Stormer, AMX13, BMP3F, PT76, BTR-50) dan berbagai alutsista canggih lainnya yang baru datang dalam satu model pertempuran yang terintegrasi. Ini pertama kalinya TNI menerapkan simulasi pertempuran 3 matra dengan konsep pre emptive strike. 



Yang menarik meski Latgab diadakan di seluruh Jawa dan Bali, empat hotspot yang lagi hangat saat ini tetap dalam pengawalan ketat operasi militer gabungan TNI. Perairan Ambalat dijaga 10-12 KRI bersama pasukan Kodam Mulawarman dan Kodam Wirabuana dengan dukungan Sukhoi Makassar. Laut Timor dan Arafuru dikawal 9-11 KRI dan Laut Natuna dijaga 8-10 KRI. Satu hotspot lagi yaitu hotspot tak terduga Tanjung Datuk saat ini dijaga 4 KRI dan pasukan batalyon 641 Raider.



Kurikulum simulasi pertempuran dalam Latgab kali ini lebih bergigi dengan menampilkan pertempuran udara antar jet tempur, serangan udara langsung, penembakan rudal, penghancuran kapal perang, membombardir markas lawan, pendaratan pasukan Marinir dan pasukan Kostrad sebanyak 1 Divisi.
  
Ini bukan pekerjaan mudah, mobilisasi pasukan dan alutsista merupakan kerja hebat yang perlu diacungi jempol dan hanya mampu dilakukan oleh manajemen tentara yang terlatih.  

Berbagai peluru kendali canggih akan ditembakkan antara lain peluru kendali Exocet MM40 blok 3 dari KRI Sultan Iskandar Muda, peluru kendali KH29 Vympel dari jet tempur Sukhoi, peluru kendali C803, torpedo dan berbagai amunisi lain yang mempunyai daya ledak yang luar biasa.



Hiruk pikuk Pilpres lebih membahana gaungnya namun hulubalang Republik tetap menjalankan tugas utamanya, pertahanan dan kewibawaan teritori NKRI. Termasuk mengusir kapal perang jiran yang "mengawal" pembangunan mercusuar Tanjung Datuk Kalbar. Dan memang itulah tugas tentara.



Sumber : Analisis 

Kesehatan

Pendidikan

Hiburan

Pictures

Kesehatan

Perusahaan Anda butuh SEO?

Perusahaan Anda butuh SEO?

Sebenernya apa sih manfaat SEO untuk bisnis : Meningkatkan kunjungan web dari mesin mencari Meningkatkan Brand Awarness Meningkatkan...

Total Pageviews

Berita

Archive

  • Latest News

    Category

    728x90 AdSpace

    Fashion

    Pariwisata

    Unik

    Pariwisata

    Wanita

    Kuliner

    Popular Posts

    Find Us On Facebook

    Flickr

    Link