Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Saturday, 8 April 2017

9 Kalimat Ini Pantang Diucapkan Orangtua kepada Anak

Hati-hati berucap perkataan yang buruk kepada anak.

Liputan6.com, Jakarta Pelampiasan kemarahan kepada anak dengan perkataan kasar dapat menyebabkan anak menjadi depresi atau makin nakal. Apalagi di saat mereka sedang mengalami tumbuh kembang, mereka dengan mudah menyerap apa yang orangtua ucapkan.

Tak hanya saat masa kecil saja, ketika anak sudah remaja dan dewasa, orangtua juga tetap perlu berhati-hati mengatakan ucapan tertentu.

Dilansir dari laman Times of India, Rabu (5/4/2017), ada beberapa ucapan yang patut dihindari kepada anak.

1. "Ibu atau ayah jauh lebih bertanggung jawab saat masih seusia kamu."


Membandingkan anak dan memberinya contoh dari apa yang Anda mampu saat Anda masih kecil adalah kesalahan besar yang pertama dilakukan orang tua. Ucapan ini akan merusak rasa percaya diri anak.

2. "Kamu selalu mengambil keputusan yang salah."

Jangan menghukum anak untuk menjadi dewasa. Tiap orang diperbolehkan melakukan kesalahan. Hal ini sebenarnya bagian dari proses pembelajaran.

Anak mungkin memutuskan mengambil bidang studi yang tidak menarik bagi Anda atau mungkin bekerja pada perusahaan yang Anda anggap tidak begitu membanggakan.

Namun, itu tidak berarti Anda menuduhnya salah mengambil keputusan. Tugas Anda sebagai orang tua adalah membimbingnya, tidak memaksakan ia mematuhi apa pendapat Anda.

Membandingkan dengan saudara kandung

3. "Mengapa kamu tidak bisa lebih baik seperti saudara atau adikmu?"

Hindari membandingkan antara saudara kandung soal kemampuan yang dimiliki. Hal tersebut dapat membuat permusuhan dan jurang perbedaan antara saudara kandung.

Anda tidak ingin anak memendam perasaan negatif kepada orangtua sendiri.

4. "Tinggalkan ibu atau ayah sendiri!"

Ada kalanya orangtua ingin dibiarkan sendiri. Ucapan "Tinggalkan saya sendiri!" dapat membuat anak merasa diabaikan, tidak diinginkan, dan tertekan pada waktu yang sama.

5. "Kamu seharusnya malu pada diri sendiri."

Pernyataan ini begitu keras terucap. Ucapan mengerikan seperti ini hanya akan membuat anak merasa "buruk". Beberapa anak ada yang nakal, tapi bukan berarti Anda menegurnya dengan ucapan seperti ini.

Anak jadi pelampiasan kemarahan

6. "Kamu seperti ayah atau ibumu."

Tidak semua pasangan yang sudah menikah bahagia hidup bersama. Permasalahan rumah tangga sering dilampiaskan dalam ucapan yang tidak baik terhadap satu sama lain. Beberapa hubungan ada yang berujung perpisahan.

Anak-anak dapat menjadi saksi orangtua yang saling bermusuhan. Ketika Anda sedang bergolak dengan pasangan, lantas menghujani kebencian pada anak, saat itulah anak mulai kehilangan rasa hormat.

7. "Kamu selalu menemukan cara untuk menyakiti ibu atau ayah."

Ada kalanya anak-anak terluka dengan sentimen orang tua berupa melawan keinginan orangtua. Ucapan ini hanya akan membuat anak merasa bersalah tentang keputusan yang diambilnya.

Anak mungkin memenuhi tuntutan orangtua demi membuat orangtua bahagia. Namun, orangtua  menghilangkan hak kebahagiaan anak dalam jangka panjang.

Biarkan anak-anak mengambil keputusan sendiri dan hidup bebas dari rasa bersalah.

Menyesali memiliki anak

8. "Lebih baik tidak punya anak daripada punya anak seperti kamu."

Sebagian besar ucapan di atas karena ledakan emosi yang ekstrem, tapi memiliki konsekuensi serius pada anak. Ucapan ini termasuk kalimat paling menyakitkan yang pernah Anda katakan kepada anak.

Berkata sesuatu seperti ini bisa membuat Anda menyesal seumur hidup.

9. "Jauhi teman-teman kamu yang tidak baik."

Menjauhkan anak dari teman-teman yang dianggap tidak baik dapat memperburuk pergaulan dan dunia anak. Orangtua tidak bisa memerintahkan anak mendapatkan teman yang baik.

Monday, 3 April 2017

Dr Oen, Ya Dokter, Ya Pejuang...

Oen Boen Ing atau Dr Oen merupakan eksemplar par excelence bagi sosok dokter, pejuang, sosiawan, sekaligus dermawan Tionghoa-Indonesia.

KOMPAS.com
 - Banyak orang sering mempertanyakan peran etnis Tionghoa dalam perjuangan Indonesia. Oen Boen Ing merupakan eksemplar par excelence bagi sosok dokter, pejuang, sosiawan, sekaligus dermawan Tionghoa-Indonesia.

Lahir di Salatiga pada 3 Maret 1903, sedari kecil Oen Boen Ing atau akrab disapa Dr Oen sudah menggenggam cita-cita menyembuhkan orang sakit. Hal itu terinspirasi dari sang kakek yang merupakan sinshe kenamaan di Salatiga.
Oen kecil memang kerap menyaksikan cara sang kakek yang tak pernah meminta bayaran dari pasien yang ditanganinya. Singkat kata, Oen lalu mendaftarkan dirinya di Stovia, Sekolah Pendidikan Dokter Hindia, di Batavia.
Di sekolah itu Oen berjumpa dengan para tokoh pergerakan Indonesia dan Tionghoa, seperti Dr Moewardi, Moh Roem, Ang Yan Goan, serta Dr Kwa Tjoan Sioe. Pertemuan itu kelak berkembang menjadi rangkaian diskusi yang berperan membentuk pemikiran dan semangat perjuangan Dr Oen.
Patriot Revolusi
Hijrah di Surakarta, Dr Oen menyaksikan langsung seluruh rangkaian proses transisi kekuasaan di Indonesia, mulai zaman kolonial Belanda, pendudukan Jepang, proklamasi kemerdekaan, hingga perjuangan di masa revolusi. Dia bahkan turut andil dalam seluruh rangkaian periode historis tersebut.
Penekanan mungkin perlu diberikan di masa revolusi Indonesia, yaitu era ketika orang Tionghoa kerap ditampilkan berseberangan dalam konteks besar penulisan sejarah revolusi Indonesia.
Saat huru-hara anti-Tionghoa tengah membara di Surakarta misalnya, nama Dr Oen justru dielu-elukan sebagai pahlawan, terutama oleh rakyak kebanyakan. Bersama dengan pejuang Republik dari berbagai elemen, dia bahu-membahu berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dr Oen secara diam-diam menyuplai penisilin untuk Jenderal Sudirman dan mengobati Tentara Pelajar yang membutuhkan perawatan. Dia mampu mewarnai perjuangan revolusi lewat kontribusinya di sektor medis.
Di situlah peran Dr Oen menjadi penting sebagai agen pengubah sejarah, terutama di tengah merebaknya isu sara belakangan ini.
Dokter Mangkunegaran
Dr Oen dan Pura Mangkunegaran merupakan dua unsur yang tak terpisahkan. Sejak 1944 dirinya sudah dipercaya menjadi dokter pribadi Pura Mangkunegaran dan terus diemban tugas itu hingga akhir hayatnya.
Memang, Dr Oen dipercaya untuk menangani kesehatan keluarga besar Mangkunegaran, mulai putra sentana hingga pegawai Mangkunegaran. Dirinya juga dipercaya menjadi dokter pribadi dari Gusti Nurul.
Dr Oen berkawan karib dengan Mangkunagoro VIII dan menjadi ayah angkat dari Mangkunagoro IX. Dia jugalah yang kemudian memberikan nama Wu Yi kepada Mangkunagoro IX.
Berkat dedikasinya bagi Pura Mangkunegaran khususnya, dan penduduk Surakarta pada umumnya, pada 11 September 1975 Dr Oen menerima gelar "Kandjeng Raden Toemenggoeng (KRT) Obi Darmohoesodo" dari Pura Mangkunegaran. Gelar itu kemudian dinaikkan menjadi "Kandjeng Raden Mas Toemenggoeng (KRMT) Hario Obi Darmohoesodo” pada 24 Januari 1993.
Dr Oen punya "tempat" sendiri di mata keluarga besar Mangkunegaran. Tak heran, ketika meninggal, upacara pelepasan jenazahnya dilakukan menggunakan tradisi Mangkunegaran, suatu kehormatan yang tentu tak bisa didapatkan oleh sembarang orang.
Tulus tanpa pandang bulu
Sehari berselang setelah kepergian Dr Oen yang meninggal pada 30 Oktober 1982, baik surat kabar nasional dan lokal mencoba mengulas kembali peran sang dokter. Kesimpulan dari beragam pemberitaan tersebut; publik jelas merasa kehilangan sosok Dr Oen, yang dikenal Tulus dan tanpa pamrih mengobati pasien dan mungkin sulit ditemukan lagi di masa mendatang.
Ya, ketika pasiennya tidak mampu menebus obat, beliau tak segan untuk merogoh kocek pribadinya. Dia bahkan mulai membuka praktiknya sejak pukul 03.00 pagi!
Di bawah penanganannya, stereotip bahwa "sehat haruslah mahal" berhasil dipatahkan. Masyarakat yang sebelumnya melihat rumah sakit sebagai tempat yang "angker", kini mulai berani memeriksakan penyakitnya.
Berkat dedikasinya itu penduduk Surakarta pun memandangnya sebagai pengayom rakyat kecil.
Menambal sejarah
Menurut RM Daradjadi, ada semacam titik temu antara falsafah hidup Dr Oen dengan budaya Jawa. Dia sukses menerapkan ajaran sepi ing pamrih rame ing gawe atau bekerja keras tanpa mengharapkan imbalan material.
Sudah terbukti, meski terlahir sebagai Tionghoa, namun Dr Oen menghayati budaya dan tradisi Jawa. Di samping itu, dia juga berhasil menangkap pesan Mangkunagoro I (Pangeran Sambernyawa), yang tertulis dalam Serat Wedhatama, mengenai tiga poin penting kehidupan, yaitu: rumangsa melu handarbeni (merasa turut memiliki), melu hangrungkebi (turut bertanggung jawab mempertahankan), dan malat sarira hangrasa wani (berani mengoreksi diri).
Bagi RM Daradjadi, Dr Oen dianggap berhasil menerapkan dan menghayati poin-poin tersebut sebagai pegangan hidupnya.
Lewat buku tulisan Ravando ini, Dr Oen: Pejuang dan Pengayom Rakyak Kecil, sosok Dr Oen berhasil ditampilkan secara utuh. Selain itu, pembaca seolah dibawa untuk menyelami jiwa zaman yang sedang berkembang saat itu.
Ditulis dengan pendekatan historis, sumber yang digunakan pun bervariasi, mulai dari arsip, koran, buletin, majalah, buku peringatan, hingga wawancara. Melalui narasi hidup Dr Oen ini, diharapkan pelbagai kekosongan sejarah Indonesia, terutama di masa revolusi, dapat sedikit tertambal.
Selain itu, biografi ini juga dapat menjadi rujukan pembanding atas pelabelan economic animal yang kerap disematkan kepada orang Tionghoa. Rekam jejak Dr Oen telah membuktikannya.
BAGUS ZIDNI ILMAN NAFI/PENERBIT BUKU KOMPAS

http://edukasi.kompas.com

Upaya Menginternasionalkan Dongeng Indonesia ke Mancanegara

Foto: Andi Sururi

Bologna - Untuk ketiga kalinya Indonesia menjadi peserta pameran buku anak-anak terbesar di dunia, Bologna Children's Book Fair. Tahun ini tema yang diusung adalah 'Seeing Tales'.

Selama empat hari, 3-6 April 2017, lebih dari 250 judul buku anak-anak dan remaja dari berbagai kategori seperti dongeng, cerita rakyat, seni tradisi, fantasi, buku anak-anak religi, serta buku pengajaran bahasa dan pengembangan karakter, akan dipamerkan selama tiga hari di Bologna Fiere, Bologna, Italia.

Paviliun Indonesia menempati Hall 29 Stand A29, seluas 64 meter persegi, bernuansa pastel dengan sapuan kuning dan merah, yang didesain oleh Andro Kaliandi. Untuk menguatkan tema yang dipilih, enam karya ilustrasi buku terpilih ditampilkan sebagai bagian dari "etalase" booth Indonesia.

Satu di antaranya adalah ilustrasi dari buku berjudul 'The Dancing Folktales' karya Evelline Andrya, yang menampilkan sosok cerita wayang, Hanoman.

Menginternasionalkan Dongeng Indonesia ke MancanegaraFoto: Andi Sururi


"Seeing Tales kami pilih sebagai tema tahun ini karena Indonesia kaya akan cerita. Dari satu etnik di Indonesia saja, misalnya, ada begitu banyak dongeng. Di Bologna kali ini fokus utama kami adalah menampilkan (cerita) keseharian anak Indonesia (melalui buku)," tutur ketua Komite Buku Nasional (KBN), Laura Prinsloo.

Disebutkan Laura, buku anak-anak (dan remaja) memiliki keistimewaan di dalam dunia literasi di Indonesia karena market share-nya adalah yang terbesar dibanding genre-genre lain, baik dari segi penerbitan maupun penjualan, yakni sekitar 23%.

"Buku anak kita banyak sekali diminati penerbit asing dan menjadi genre terpopuler di pameran buku Frankfurt sejak tahun 2015. Tak cuma itu, Indonesia juga punya banyak ilustrator hebat yang memang sudah mendunia, dan sudah saatnya mereka dipromosikan," tambah wanita 33 tahun itu.

Menginternasionalkan Dongeng Indonesia ke MancanegaraFoto: Andi Sururi


Ya, pameran buku internasional memang merupakan kesempatan terbuka bagi para penerbit, penulis, maupun ilustrator untuk memasarkan karya-karyanya di pasar internasional. Catatan KBN, dalam dua tahun terakhir ada lebih dari 300 penjualan hak cipta pelaku penerbitan Indonesia di mancanegara.

"Pada keikutsertaan pertama Indonesia di Bologna Children's Book Fair (2015), memang tidak ada lisensi yang terjual. Tapi kehadiran kita langsung mendapat perhatian. Di tahun berikutnya, 33 karya kita terjual ke luar negeri. Harapan kita tentu saja tahun ini bisa lebih banyak lagi," tutur Laura.

Semangat tim KBN pada Bologna Children's Book Fair 2017, yang juga didukung oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Paris, terlihat ketika mereka sudah "buka lapak" sejak H-2. Tiba di Bologna pada Sabtu (1/4) sore, mereka langsung ke arena pameran untuk mulai menata booth Indonesia, di saat sebagian besar peserta dari puluhan negara baru melakukannya pada hari minus satu. 

Tim Komite Buku Nasional dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Paris, Prof. Dr. Surya Rosa Putra, MS. (detikcom/andi)Tim Komite Buku Nasional dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Paris, Prof. Dr. Surya Rosa Putra, MS. (detikcom/Andi)


Ini adalah edisi ke-54 Bologna Children's Book Fair, yang setiap tahunnya diikuti 1.200 peserta dari lebih dari 70 negara. Di tempat ini berkumpul para penulis, ilustrator, penerbit, agen, produser TV & film, toko buku, pustakawan, dan pelaku industri digital untuk melakukan jual-beli hak cipta, memperoleh kontrak baru, mengembangkan lini bisnis baru, serta mendiskusikan berbagai tren di dunia literasi anak dan remaja.

Ajang pameran buku ini juga memberikan sejumlah penghargaan termasuk Bologna Ragazzi Award, yang sering menjadi batu loncatan menuju bisnis yang sukses bagi penerbit kecil yang kurang dikenal.

Upaya Menginternasionalkan Dongeng Indonesia ke MancanegaraFoto: Andi Sururi

(a2s/nu2)
https://hot.detik.com

Wednesday, 22 March 2017

Belajar Bahasa Inggris Online Jadi Solusi Hadapi Kompetisi Masyarakat Ekonomi Asean

ASEAN Community. Source: http://www.asiaeducation.edu.au

Masyarakat Ekonomi ASEAN atau MEA yang akan dihadapi masyarakat Asia Tenggara diharapkan akan membawa pengaruh yang sangat baik secara regional maupun bagi masing-masing negara. Kerja sama yang disepakati oleh para pemimpin negara-negara ASEAN tahun lalu meliputi kerja sama keamanan dan politik, ekonomi, dan sosial budaya.
Tujuan utama MEA adalah mengintegrasikan kegiatan ekonomi regional dengan cara mengurangi biaya-biaya perdagangan, meningkatkan keajegan ekonomi, dan juga merangsang kompetisi di antara negara anggota. Tak hanya itu, MEA juga bertujuan untuk menciptakan kesatuan pasar dan produk sehingga barang, jasa, investasi, pekerja, dan modal leluasa bergerak dalam wilayah MEA.
Para pekerja yang berasal dari Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand, Filipina, Malaysia, Myanmar, Singapura, Brunei Darussalam, dan Indonesia nantinya dapat bekerja di negara-negara yang termasuk dalam negara ASEAN.
Menurut Forum Ekonomi Dunia, pada dekade yang akan datang, MEA bisa mengungkit ekonomi regional hingga 7,1 persen dan menciptakan 14 juta lowongan kerja bagi pekerja ahli. Delapan bidang profesi yang diharapkan mendapat pergerakan pada tahun depan adalah dokter gigi, perawat, dokter, insinyur, arsitek, akuntan, surveyor, dan pramuwisata.
Source: World Economic Forum
Nantinya akan menjadi hal yang lumrah, orang Indonesia bekerja di Singapura, Bangkok, Hanoi. Atatu Ho Shi Minh City. Begitu pula sebaliknya, di Indonesia juga akan terdapat para pekerja ahli dari negara-negara ASEAN yang datang untuk mencari peluang yang lebih baik.
Dengan pergerakan pekerja yang bebas tersebut, kompetisi di pasar kerja juga akan sangat terlihat. Bagi Indonesia, bekerja di luar negeri merupakan kesempatan yang besar sehingga dapat meningkatkan pendapatan. Hal tersebut juga terkait dengan pembangunan ekonomi nasional.
Namun, di sisi lain kedatangan para pekerja asing ke Indonesia akan menimbulkan kompetisi yang lebih dramatis di pasar kerja lokal. Para pekerja Indonesia harus mempunyai latar belakang akademik yang baik untuk tetap bisa bersaing dengan baik.
Salah satu yang harus diperhatikan para pekerja Indonesia adalah kemampuan dalam berbahasa Inggris. Bahasa Inggris merupakan satu-satunya alat komunikasi regional. Dengan menguasai bahasa ini menjadi sangat penting dan kritikal supaya para pekerja Indonesia sanggup berkompetisi baik secara domestik maupun regional.
Kenyataan bahwa pekerja Indonesia bukan penutur bahasa Inggris tentu akan mendapat tekanan dari para pekerja dari negara-negara yang telah menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa tutur kedua, seperti Singapura, Filipina, dan Malaysia.
Untuk itu, dalam mempelajari bahasa Inggris, kini sudah terdapat banyak pilihan. Bagi pekerja yang tidak memiliki banyak waktu untuk mengambil kelas tradisional atau offline, yang mengharuskannya datang dalam beberapa kali pertemuan, kursus online merupakan pilihan yang tepat. Salah satunya dengan mengambil kursus online bahasa Inggris di TOPICA NATIVE yang telah memperoleh banyak pengakuan sebagai penyedia jasa terkemuka kursus online bahasa Inggris di Asia Tenggara.
TOPICA NATIVE menciptakan kesempatan yang lebih luas bagi siapa saja agar bisa mengikuti kursus bahasa Inggris dengan mudah dan murah. Bersama TOPICA NATIVE, Anda bisa belajar kapan saja, di mana saja mengikuti 16 kelas setiap hari dan ribuan guru penutur bahasa asli.
Snapshot of a TOPICA NATIVE class. Source: http://indo.topicanative.asia

Topica menyediakan kesempatan agar setiap peserta mendapatkan bantuan 24 jam setiap hari dan 7 hari seminggu dari masing-masing pembimbingnya serta staf teknis sehingga Anda tak perlu khawatir terhadap hal lain kecuali fokus belajar. Hasil belajar yang telah direncanakan, dikerjakan setiap akhir kursus dan selalu ada sesi setiap hari yang bisa Anda ikuti tanpa harus mengatur ulang jadwal kelas.
Di seluruh wilayah Asia Tenggara, terdapat lebih dari 10.000 siswa belajar di TOPICA NATIVE. Di antara mereka, 77 persen menjadi lebih yakin berkomunikasi dengan orang asing. Salah satunya Aris Setiawan seorang staf Marketing yang tidak memiliki banyak waktu untuk mengunjungi pusat-pusat bahasa Inggris secara offline.
"Saya memilih TOPICA NATIVE yang menawarkan berbagai kelas yang fleksibel sepanjang hari. Yang paling saya sukai dari programnya adalah kesempatan yang disediakan untuk berinteraksi dengan guru penutur asli dari seluruh dunia dengan cara yang sangat profesional. Semua materi belajar berstandar internasional, sama seperti di Universitas Harvard dan Standford. Sangat mudah dan cepat bisa mengikuti kelas, cukup dengan menyediakan komputer, laptop dan koneksi internet. Setelah sebulan belajar, saya mulai merasa lebih yakin dan bisa bercakap-cakap dengan orang asing secara alamiah,” kata Aris.
Untuk mencari informasi tentang TOPICA NATIVE anda dapat mengunjungi website kami di http://topi.ca/native_indo atau anda dapat melihat contoh kelas kami di dalam video ini. (Adv)

Tuesday, 21 March 2017

Bangsa yang Berkarakter adalah Bangsa yang Membaca

Buku di perpusakaan di sebuah perguruan tinggi di Belanda.

Oleh: Indy Hardono

KOMPAS.com - Pada zaman Hindia Belanda, para pelajar di Algemene Middelbare School (AMS) yang setara dengan Sekolah Menengah Umum (SMU) sekarang diwajibkan untuk membaca. Siswa diminta melahap paling tidak 20 sampai 25 buku karya sastra selama tiga tahun masa studi mereka.
Kegiatan membaca biasanya diikuti dengan menulis karangan setiap minggunya. Dapat dibayangkan banyaknya tulisan yang dihasillkan oleh setiap pelajar selama kurun waktu tiga tahun tersebut.
Tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Hatta, dan Ali Sosroamidjoyo adalah produk pendidikan tersebut. Sejarah juga mencatat banyak buku dan tulisan dahsyat dari para tokoh itu yang kemudian mengubah nasib bangsa ini.
Sebutlah Di Bawah Bendera Revolusi karangan Soekarno. Buku ini berisi semua pemikiran brilian sang proklamator, terutama pada masa pra-kemerdekaan.


Juga bung Hatta, si kutu buku, yang dengan pledoi terkenalnya “Indonesie Vrij” – Indonesia Merdeka. Hatta menulis itu dari balik tembok penjara di Belanda saat ditahan Pemerintah Hindia Belanda pada masa studinya.
M LATIEF/KOMPAS.comSuasana perpustakaan di APU, Jepang.
Nilai universal
Situasi yang ada sekarang sangat berbeda. Sastrawan Taufik Ismail pernah melakukan riset tentang kewajiban membaca buku sastra di beberapa negara di kalangan pelajar setingkat SMU selama tiga tahun masa studi mereka.
Hasil risetnya menunjukkan, para pelajar SMU di Jerman wajib membaca 32 buku sastra, di Belanda 30 buku, di Amerika Serikat sebanyak 25 buku, di Jepang 12 buku, di Singapura 6 buku, di Malaysia 6 buku, dan di Indonesia nol!
Hal itu sudah berlangsung lebih dari 60 tahun dan tidak ada yang "panik". Tragedi nol buku! Suatu kemunduran yang mengerikan.
Lalu, apa hubungannya dengan situasi bangsa? Apakah berarti kita ingin menjadikan semua anak di negeri ini menjadi sastrawan? Bukannya negeri ini konon membutuhkan lebih banyak  insinyur, ahli hukum, dan tenaga medis?
Membaca bukan sekedar untuk mengerti arti kata, arti kalimat dan jalan cerita sebuah kisah. Membaca yang benar bukan sekedar kegiatan kognitif. Membaca bukan sekedar untuk ngerti dansekedar tahu. Membaca itu untuk mengolah rasa, mengasah kepekaan, serta membangkitkan kesadaran.
JK Rowling, salah satu penulis tersukses abad ini, mengatakan bahwa salah satu buku favoritnya adalah Macbeth karya pujangga terkenal Willian Shakespeare. Selain itu, Rowling juga menggilai buku-buku politik tentang Abraham Lincoln.
Genre buku yang ditulis Rowling sangat berbeda dengan karya besar Shakespeare. Kita pun sulit membayangkan irisan antara Harry Potter, si karakter utama di buku karangannya dengan Abraham Lincoln si bapak bangsa Amerika, jika kita hanya melihat dari permukaan saja.
Namun, itulah kekuatan membaca! Tak ada batasan genre dalam buku, tidak ada batasan ideologi dalam buku, tidak ada batasan zaman dalam buku.
Membaca novel Harry Potter sama nilainya dengan membaca Little Women karya Louisa May Alcott atau Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk karya Hamka atau Filosofi Kopi milik Dewi Lestari.
Ya, karya sastra adalah tulisan paling paripurna. Di dalamnya ada rasa, penghayatan dan juga fakta kehidupan. Di dalamnya ada totalitas dan jiwa sang penulis. Itu yang tidak didapat dari buku referensi atau buku pelajaran biasa. Membaca dengan totalitas akan menghasilkan tulisan dengan totalitas pula. 

Mungkin, jika Hatta dulu tidak dijejali dengan karya-karya sastra, maka ia hanya akan menjadi seorang ahli ekonomi, bukan proklamator! Boleh jadi, dia mendapatkan gelora cinta tanah air dan kesadaran untuk memerdekakan rakyat terjajah dari buku-buku sastra yang dibacanya. 

Buku adalah universal. Ia hanya mengenal imajinasi, kreatifitas, dan rasa ingin tahu. Kekuatan "sihir" dari buku juga dapat mengubah orang memiliki wawasan lebih luas dan cita-cita, serta berorientasi pada penyelesaian masalah (action). Membaca adalah kegiatan kognitif, afektif sekaligus psikomotorik.
Memupuk budaya baca
Apa ciri suatu bangsa sudah memiliki budaya baca yang baik? Banyak sekali fenomena sehari-hari yang dapat menunjukkan hal itu.
Sebutlah misalnya, apakah bangsa tersebut lebih bangga memiliki gedung pencakar langit tertinggi di dunia dan mal terbesar di Asia, atau lebih bangga memiliki toko buku terindah di dunia?
Maastricht, salah satu kota di Belanda, memiliki sebuah toko buku sekaligus perpustakaan yang merupakan salah satu toko buku terindah di dunia. Selexyz Dominicanen adalah sebuah gereja abad ke-13 yang pernah dijadikan hanya sebagai gudang arsip dan tempat parkir sepeda, dan kini dialih fungsikan menjadi kebanggaan dan ikon kota cantik di bagian selatan negeri kincir angin itu.
Bandingkan dengan rumah-rumah retro yang cantik di sepanjang jalan Dago di Bandung. Tak satu pun yang menjadikannya sebagai toko buku atau perpustakaan. Bangunan nan anggun itu harus "rela" hanya dijadikan factory outlet atau warung batagor.
Membaca tidak cukup dijadikan ajakan atau himbauan. Membaca harus menjadi kewajiban. Jika perlu dikembangkan kurikulum pendidikan nasional berbasis membaca.
Kewajiban membaca bagi siswa adalah membaca dalam pengertian lengkap. Bukan sekedar menghafal siapa nama penulis buku Layar Terkembang atau siapa tokoh antagonis dalam buku Siti Nurbaya. Tapi, membaca yang mampu mengasah rasa, menumbuhkan nilai-nilai dan membangun karakter.
Membangun kecintaan pada membaca bukanlah pekerjaan satu malam dan tanggung jawab sekolah saja. It takes a village! JK Rowling mengatakan:"Kalau kamu belum suka membaca, kamu hanya belum menemukan buku yang tepat."
Jadi, jangan menyerah, teruslah pupuk minat membaca! 

Bangsa yang membaca
"Iqra! Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.”
Iqra, dari kata dasar qara’a ataumenghimpun. Inilah wahyu pertama sekaligus kunci dari kehidupan dan peradaban.
Membaca bukan sekedar literasi aksara. Membaca adalah menelaah, mendalami, meneliti, dan menyampaikan.
Bangsa yang membaca akan lebih bijak, karena ia memilki banyak jendela untuk memandang masalah dari berbagai sudut.
Bangsa yang membaca adalah bangsa yang mencari solusi dengan melihat ke dalam (inward looking) dan bukan sibuk berteriak menghujat pihak lain sebelum melihat kepada dirinya sendiri.
Bangsa yang membaca adalah bangsa yang terstruktur cara berpikirnya, karena membaca buku fiksi maupun nonfiksi sama-sama menstimulasi kerja otak.
Bangsa yang membaca adalah bangsa yang ‘tenang’, tidak grasak-grusuk.  Karena membaca membutuhkan ‘ruang tenang’ baik itu di perpustakaan, maupun di bis atau kereta komuter yang padat penumpang sekalipun.
Bangsa yang membaca adalah bangsa yang memiliki kepekaan dan kesadaran. Kesadaran terhadap dirinya, kekuatan dan kelemahannya dan kepekaan terhadap sekelilingnya. Bangsa yang membaca tidak mudah menyebar hoax ke berbagai media sosial, tidak membuang waktu berdebat untuk hal yang tidak jelas dasarnya.
Bangsa yang membaca memiliki lisan yang santun, runut dan kental karena merupakan hasil dari menghimpun, mengamati, merenungkan, dan merefleksikan apa yang dilihat, dan dirasakan.
Buku adalah tentang peradaban. Hanya bangsa yang membaca yang memiliki karakter dan peradaban tinggi. Bangsa yang tidak membaca lambat laun akan tersingkir dari peradaban.
Seperti dikatakan oleh Bung Hatta: "Aku rela di penjara, asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”
Ya, bangsa yang membaca adalah bangsa yang merdeka...
Editor: Latief
http://edukasi.kompas.com

Wednesday, 15 March 2017

Metode Pengajaran Interaktif Lebih Efektif

M.LATIEF/KOMPAS.COM  Ilustrasi: Guru.

BANDUNG, KOMPAS
 - Metode pengajaran interaktif dinilai lebih efektif untuk peningkatan kualitas siswa dan guru. Selain lebih menyenangkan, metode itu membuat siswa dan guru lebih mudah memahami materi dan menumbuhkan minat baca keduanya.
"Siswa dan guru lebih antusias menangkap materi pelajaran karena sering bertanya tentang apa yang sudah dibaca dan didengarkan," kata guru kelas II Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pasawahan Kota Bandung, Gita Insani Maryam, seusai mengikuti program "Kids Read 2016" di Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (11/3).
Acara ini digelar British Council melalui British Council Indonesia Foundation dengan dukungan HSBC Indonesia. Kegiatan itu digelar pada periode Maret-Desember 2016. Pesertanya 30 guru dari 15 SDN di Kota Bandung. Kegiatan dengan tema "The Story So Far" itu menyasar sekitar 2.000 guru dan 24.000 siswa SD di Bandung.
Di Indonesia, program ini baru digelar di Jakarta pada 2015 dan Bandung, tahun lalu. Program yang sama telah berjalan di 13 negara di Timur Tengah dan Afrika Timur sejak 2011.
Gita mengatakan, sebelum ikut program ini, ia kerap mengajar dengan metode satu arah. Ia lebih banyak berceramah sehingga suasana belajar-mengajar kurang efektif, terkesan kaku, dan membosankan.
"Kini, saat metode interaktif ini diterapkan, siswa lebih semangat belajar dan ingin tahu. Sebelum memulai mata pelajaran, siswa akan membaca buku lebih dulu selama 15 menit. Guru menyediakan waktu tanya jawab setelahnya," ujar Gita.
Dorong minat baca
Direktur Pelatihan dan Pengembangan British Council di Indonesia Michael Little mengatakan, program ini bertujuan mendorong pertumbuhan minat baca di kalangan anak-anak. Siswa diberi pemahaman bahwa membaca merupakan kegiatan yang menyenangkan dan berguna.
"Tidak hanya siswa, guru juga diajak meningkatkan kemampuan belajar mengimbangi aktivitas siswa. Diharapkan metode baru ini dapat menginspirasi guru lain serta dapat ditularkan kepada siswa lain," ujar Little.
Head of Corporate Sustainability HSBC Indonesia Nuni Sutyoko menambahkan, dalam rangkaian kegiatan ini juga diberikan pelatihan metode bercerita kepada orangtua.
Orangtua diharapkan bisa mendampingi anak-anak mereka belajar di rumah dengan pola yang lebih menyenangkan. Dengan demikian, pemahaman anak-anak terhadap mata pelajaran akan jauh lebih baik.
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kota Bandung Supardi mengatakan, metode bercerita ini juga melatih kecakapan emosional siswa dalam berkomunikasi dengan orang lain. (SEM)
---
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Maret 2017, di halaman 5 dengan judul "Metode Pengajaran Interaktif Lebih Efektif".
Editor: Bayu Galih
Sumber: Harian Kompas,

Tuesday, 6 December 2016

Kisah Pono, Anak Penjual Sayur yang Menang Olimpiade Matematika di Malaysia

Keluarga Pono Marten

KINABALU, KOMPAS.com
 — Di dalam sebuah bangunan bertingkat dua, Pono terlihat asyik bermain bersama teman sebayanya. Canda tawa terdengar hingga ke pekarangan bangunan yang juga merupakan tempat Pono dan temannya mengenyam pendidikan.
Pono merupakan salah satu murid di Community Learning Center (CLC) Kundasang, Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. CLC Kundasang merupakan salah satu sekolah yang didirikan Pemerintah Indonesia untuk anak-anak Indonesia yang ada di Sabah, Malaysia.
Pono saat ini berusia 14 tahun. Dia duduk di bangku kelas III SMP. Tubuhnya tak terlalu tinggi, tak pula terlalu pendek. Warna kulitnya kuning langsat seperti orang Indonesia kebanyakan. Namun, yang membedakan ialah otaknya yang "encer" dibanding anak seusianya.
Di CLC Kundasang, Pono terkenal cerdas. Matematika merupakan mata pelajaran favoritnya. Guru-guru yang mengajar di CLC Kundasang mengakui bahwa Pono merupakan anak yang cerdas. Bahkan, tak jarang Pono diminta menjelaskan kepada murid lain terkait pelajaran matematika yang tengah diajarkan.
"Saya suka matematika karena ilmu pasti," ujar Pono saat berbincang dengan Kompas.com, Minggu (4/12/2016).
Kecerdasannya semakin terlihat saat menjuarai Olimpiade Matematika yang diadakan oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur. Olimpiade Matematika itu mengikutsertakan semua sekolah Indonesia yang ada di Malaysia dan Singapura.
Puluhan anak bersaing untuk menang, tak terkecuali Pono yang berasal dari CLC terpencil yang terletak di bawah kaki Gunung Kinabalu. Pono menjuarai Olimpiade dengan mengalahkan anak-anak dari sekolah Indonesia yang lebih terkenal, lebih mapan, serta memiliki fasilitas belajar yang lebih mencukupi dibanding sekolah Pono.
Pono merupakan anak dari seorang guru lokal bernama Marten dan ibu bernama Tabita. Keluarga Pono telah tinggal di Kundasang selama puluhan tahun. Pono memiliki tujuh saudara.
Adapun Pono lahir di Kundasang. Tempat tinggal Pono berada di kaki Gunung Kinabalu. Rumahnya berbahan kayu dan seng sebagai atapnya.
Sehari-hari, Pono pergi sekolah dengan menyewa mobil dengan biaya sekitar 35 ringgit Malaysia per bulannya. Pono lebih dulu harus berjalan sekitar 20 menit untuk menjangkau mobil sewaan yang setiap hari telah menunggu di jalan raya.
Untuk membiayai hidup, keluarga Pono menggantungkan pengharapan dari berkebun. Sayuran kol dan daun sop jadi tanaman pokok yang harus dijual untuk mengisi perut.
Setiap Jumat atau hari pekan, sekolah memang diliburkan karena mayoritas siswa membantu orangtuanya berjualan sayur. Tak terkecuali Pono yang dengan giat membantu ibunya mengangkut sayur.
Sebelum berangkat sekolah, kegiatan yang dilakukan Pono setiap pagi adalah membantu ibunya berkebun. Menanam bibit kol jadi kesehariannya setiap pagi. Bahkan, setelah Pono pulang sekolah, cangkul menjadi "pengganti pensil" di kebun.
Meski rajin membantu orangtuanya berkebun, Pono tetap menyempatkan diri untuk belajar. Tak jarang, guru CLC Kundasang jadi "sasaran" Pono yang lapar akan ilmu pengetahuan.
Pono datang ke rumah guru dan bisa berjam-jam belajar. Semua hal ditanyakannya kepada sang guru. Pono mengaku tak suka olahraga. Malah, ketika waktu senggang, Pono lebih suka mengutak-atik komputer. Aplikasi editing Photosop menjadi hobi barunya.
"Biasa edit-edit foto, yang ngajar dari UMS KKN. Saya kembangkan melalui Google dan tutorial," ujar Pono.
Orangtua menjadi motivasi Pono untuk terus belajar. Pono terus mengingat pesan kedua orangtuanya untuk bekerja keras agar mengubah kehidupan keluarganya.
"Mereka (orangtua katakan) enggak mau kami (Pono dan saudaranya) seperti mereka. Mereka bilang harus belajar sungguh-sungguh," ujar Pono.
Pono menyampaikan keinginannya  menjadi seorang juru terbang atau pilot. Alasan Pono sederhana, ingin bertualang untuk mengelilingi dunia.
Pono baru sekali mengunjungi Indonesia. Di dalam lubuk hati terdalam, Pono ingin kembali pulang ke Tanah Air, ke kampung halamannya.
"Ingin melihat negeri sendiri," kata Pono.
Ibu Pono, Tabita, mengaku bangga ketika Pono menjadi juara Olimpiade Matematika. Tabita mengaku tak bisa memberikan apa-apa, kecuali motivasi agar Pono dan saudara-saudaranya bekerja keras untuk bertahan hidup.
Meski memiliki pendidikan rendah, Tabita tak mau Pono dan saudaranya bernasib sama seperti dirinya. Pono memiliki tujuh saudara. Dua orang telah mengenyam bangku kuliah, sisanya berada di bangku SMK, SMP, SD dan TK. Semua biaya pendidikan ditanggung dengan hasil kebun di ladang.
"Semuanya harus sekolah," ujar Tabita.
Penulis: David Oliver Purba
Editor: Ana Shofiana Syatiri

Kesehatan

Pendidikan

Hiburan

Pictures

Kesehatan

Perusahaan Anda butuh SEO?

Perusahaan Anda butuh SEO?

Sebenernya apa sih manfaat SEO untuk bisnis : Meningkatkan kunjungan web dari mesin mencari Meningkatkan Brand Awarness Meningkatkan...

Total Pageviews

Berita

Archive

  • Latest News

    Category

    728x90 AdSpace

    Fashion

    Pariwisata

    Unik

    Pariwisata

    Wanita

    Kuliner

    Popular Posts

    Find Us On Facebook

    Flickr

    Link