Showing posts with label Pariwisata. Show all posts
Showing posts with label Pariwisata. Show all posts

Saturday, 8 April 2017

Kisah Penemuan Air Terjun Tertinggi Ketiga di Dunia yang Dikelilingi Berbagai Takhayul



TRIBUN-VIDEO.COM -- Air terjun Gocta merupakan air terjun tertinggi ketiga di dunia yang baru ditemukan pada 2005.
Seorang ahli ekonomi Stefan Ziemendorff sedang bekerja untuk proyek air limbah di Provinsi Amazonas, Peru.
Stefan memanfaatkan waktu istirahatnya untuk naik gunung di lembah Utcabamba dan mencari area reruntuhan pra-Inka yang telah ditinggalkan.
Ketika ia menyebrangi sebuah jurang, dia melihat sesuatu yang tidak disangka-sangka.
Ia melihat sesuatu yang menjulang tinggi, sebuah air terjun dua tingkat yang tidak pernah muncul di peta manapun.
Bulan Maret berikutnya Stefan kembali ke tempat tersebut dengan membawa peralatan mengukur.
Stefan kemudian mengadakan konferensi pers untuk mendeklarasikan bahwa dia telah menemukan air terjun tertinggi ketiga di dunia.
Air terjun tersebut mengalir dari ketinggian sekitar 771 meter atau sekitar dua kali lipat ketinggian Menara Eiffel.
Penemuan Stefan ini tentu saja sama sekali bukan penemuan baru.
Penduduk Cocachimba telah mengetahui tentang air terjun ini sejak 1950-an.
Kota Cocachimba terletak di bawah air terjun ini.
Mereka menyebut air terjun ini sebagai "Gocta" setelah adanya suara-suara yang ditimbulkan monyet howler di area tersebut.
Tetapi kebanyakan penduduk menjauhi area tersebut karena cerita-cerita takhayul yang melingkupinya.
Penyebutan Gocta sebagai air terjun tertinggi ketiga di dunia menghadapi kontroversi.
Namun demikian tidak ada yang meragukan keindahan Air Terjun Gocta.
Meningkatnya minat turis mancanegara terhadap air terjun Gocta juga membawa keuntungan untuk Cocachimba yang kini menjadi tuan rumah untuk wisatawan yang ingin menyaksikan air terjun ini.
Selengkapnya tonton video di atas. (*)

Thursday, 6 April 2017

Berani Baca? Kastil Cantik di Prancis yang Konon Disinggahi Iblis

Kastil Bonneval yang punya menara iblis (Chateu de Bonneval)

Coussac Bonneval -
Prancis punya banyak istana cantik untuk dikunjungi traveler. Namun, ada satu istana yang konon pernah disinggahi iblis. Hii... seram!

Jika dilihat dari penampakan luarnya, Kastil Bonneval di Coussac Bonneval, 230 km dari Bordeaux, memang terlihat cantik jelita. Namun siapa menyangka, kastil cantik ini ternyata memiliki legenda yang cukup menyeramkan. Salah satu bagian menaranya konon pernah disinggahi oleh iblis.

Dihimpun detikTravel dari beberapa sumber, Kamis (6/4/2017), Kastil Bonneval ini memiliki sejarah yang amat panjang. Usianya saja sudah mencapai umur 1.000 tahun lebih.

Dibangun pada abad ke-11, kastil ini merupakan kediaman dari Keluarga Bonneval yang tersohor akan kekayaannya.

Ceritanya, sekitar tahun 1227 terjadi sebuah gempa dahsyat di wilayah Coussac Bonneval, tempat dimana kastil tersebut berada. Gempa tersebut mengakibatkan salah satu bagian menara kastil rusak parah.

Bagian menara Kastil Bonneval yang konon pernah disinggahi iblis (Chateu de Bonneval)
Bagian menara Kastil Bonneval yang konon pernah disinggahi iblis (dok. Chateu de Bonneval)


Tak berapa lama setelah kejadian itu, datanglah seorang penguasa nan rupawan yang bernama Lord dela Cote de Brulee. Meski kondisi kastil saat itu sedang rusak parah, tetapi Lady Anne de L'Estange selaku istri dari pemilik kastil berbaik hati mempersilakan Lord de Brulee untuk menginap.

Lord de Brulee pun menginap untuk semalam. Keesokan paginya, sebelum melanjutkan perjalanan Lord de Brulee ingin mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Lady Anne.

Tiba-tiba, Lord de Brulee melihat sesosok putri cantik, yang tak lain adalah anak perempuan dari Lady Anne. Nama putri cantik ini adalah Lady Alienor.

Lord de Brulee ingin mengucapkan rasa terima kasih dengan cara memperbaiki menara Kastil Bonneval yang rusak sampai kembali seperti sedia kala. Tetapi ada syarat yang diminta Lord de Brulee, yaitu dia minta untuk dinikahkan dengan Lady Alienor.

Lady Anne pun akhirnya memberikan persetujuannya. Ketika fajar tiba, Lord de Brulee dengan kesaktiannya, berhasil memperbaiki menara Kastil Bonneval yang rusak parah tersebut seperti semula.

Salah satu ruangan di Kastil Bonneval (dok. Chateu de Bonneval)
Salah satu ruangan di Kastil Bonneval (dok. Chateu de Bonneval)


Akhirnya, pernikahan Lord de Brulee dengan Lady Alienor pun terjadi. Namun saat acara pemberkatan dilangsungkan, betapa terkejutnya hadirin saat sang mempelai diperciki air suci dari pendeta yang menikahkan mereka.

Seketika Lord de Brulee berteriak, dan berubah menjadi iblis. Tak berapa lama, menara yang ia perbaiki pun jadi rusak dan terbakar dilalap api. Sampai sekarang, menara itupun dikenal sebagai Menara Iblis.

Terlepas dari kebenaran cerita tersebut, Menara Iblis ini masih bisa dilihat traveler sampai sekarang. Meski beberapa cerita penduduk setempat, menyebut legenda itu hanya karangan belaka dari orang-orang yang sirik dengan Keluarga Bonneval.

Entah versi mana yang benar, tetapi yang terpenting kini Kastil Bonneval jadi destinasi wisata yang bisa dikunjungi oleh turis. Waktu bukanya yaitu dari hari Selasa sampai Minggu. Kastil cantik ini pun bisa traveler kunjungi dengan biaya sebesar 10 Euro atau setara Rp 142 ribu.
(wsw/fay)

http://travel.detik.com/

Mau ke Komodo, Lewat Sumbawa Saja

Puluhan perahu motor cepat diparkir di perairan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Kamis (30/3/2017) sore. Alat transportasi laut itu digunakan untuk melayani wisatawan berkunjung ke sejumlah destinasi menawan di kawasan itu, seperti Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar. (KOMPAS/AGUS MULYADI)

"MAU ke Komodo, Pak?” Mita (25), petugas hotel di Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, melontarkan pertanyaan itu, Rabu (29/3/2017) petang.

Dari Pelabuhan Sape ternyata tiap hari ada feri yang melayani rute ke Labuan Bajo, gerbang utama menuju pulau berpenghuni reptil raksasa itu.

Dari Sape, kota kecamatan di ujung timur Pulau Sumbawa, sebagian kecil wisatawan yang hendak ke Pulau Komodo dan destinasi lain di kawasan perairan itu dapat memulai perjalanan.

Dari Sape ke Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), butuh enam jam berlayar.

”Dalam satu minggu, dua-tiga hari biasanya ada wisatawan asing yang menginap di sini. Beberapa hari lalu ada seorang wisatawan asal Polandia yang menginap di sini sebelum melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo,” ujar Mita.

(BACA: Kejarlah Ombak sampai Sumbawa Barat)

Namun, esok harinya, Kamis, di feri yang mulai berlayar pukul 10.25 itu tidak ada wisatawan mancanegara ataupun wisatawan domestik.

Penumpang kapal yang naik, sekitar sepertiga dari kapasitas kapal yang lebih dari 300 orang itu, kebanyakan pedagang yang hendak berjualan di Pulau Flores serta pelajar dan pekerja yang hendak pulang kampung.

Perjalanan enam jam di atas Kapal Motor Penumpang Cakalang itu tidak membosankan. Dari kapal tampak tepian pulau-pulau berpasir putih. Bahkan, setelah keluar perairan Sape, penumpang disuguhi gagahnya Gunung Sangeang.

Berkunjung ke Pulau Komodo serta destinasi wisata lain, seperti Pulau Rinca, Pulau Padar, dan Pantai Pink, melalui Pulau Sumbawa pun merupakan pengalaman menarik bagi wisatawan.

Setelah menikmati sejumlah destinasi wisata menarik, misalnya ”negeri di atas awan” Desa Mantar di Kabupaten Sumbawa Barat, Pulau Moyo di Kabupaten Sumbawa, Gunung Tambora di Kabupaten Dompu, Istana Kesultanan Bima di Kota Bima, dan wisata di sekitar Sape, wisatawan dapat melanjutkan petualangan ke Labuan Bajo.

Pilihan perjalanan melalui Sumbawa itu misalnya dilakukan oleh Rao dan Eki, warga Medan.

”Saya naik pesawat ke Lombok, lalu melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo melalui Sumbawa. Kami menyeberang melalui Sape,” kata Rao saat ditemui di obyek wisata Pulau Padar,
Kabupaten Manggarai Barat.

Di sepanjang perjalanan mulai dari Pototano di Sumbawa Barat hingga Sape di ujung timur Pulau Sumbawa, wisatawan juga disuguhi pemandangan beragam.

Matahari pagi bersinar di Pelabuhan Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Kamis (30/3/2017). Matahari muncul dari balik Pulau Bajo di depan pelabuhan. Cerahnya matahari pagi di Sape, seakan-akan menjadi penda akan bersinarnya industri pariwisata di Sape dan Pulau Sumbawa.(KOMPAS/AGUS MULYADI)

Mulai dari tanaman padi dan ladang-ladang jagung di kanan-kiri jalan lintas Sumbawa hingga bukit-bukit yang hijau dengan hutan yang terjaga. Sebagian jalan pun menyusuri tepian pantai Teluk Saleh yang memukau.

Dari Kota Bima dan Sumbawa Besar, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke Pulau Komodo melalui biro-biro perjalanan di dua kota itu.

Meski demikian, kunjungan wisatawan ke Pulau Sumbawa masih rendah jika dibandingkan total kunjungan wisatawan ke Nusa Tenggara Barat (NTB).

Data BPS Sumbawa menyebutkan, tahun 2015 kunjungan wisatawan nusantara mencapai 66.654 orang dan wisatawan mancanegara 1.802 orang.

Bandingkan dengan total kunjungan ke NTB pada tahun yang sama, yakni wisatawan domestik 1.149.235 orang dan wisatawan mancanegara 1.061.292 orang.

Pada tahun yang sama, data Bappeda NTT menyebutkan, kunjungan wisatawan nusantara ke Taman Nasional Pulau Komodo sebanyak 19.215 orang, sedangkan kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 76.195 orang.

Secara keseluruhan, kunjungan wisatawan ke NTB pada tahun 2016 makin bertambah, yakni ada 1.690.109 wisatawan nusantara dan 1.404.328 wisatawan mancanegara. Kunjungan itu masih didominasi kunjungan ke Pulau Lombok.

Anak buah kapal memasuki kawasan Pelabuhan Sape di Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Kamis (30/3/2017) pagi. Pelabuhan di ujung Nusa Tenggara Barat itu memiliki posisi strategis, yakni sebagai pintu gerbang kedua menuju Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur. (KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA)

Rendahnya kunjungan wisatawan ke Pulau Sumbawa mendorong pemerintah berusaha meningkatkannya.

Apalagi, Pulau Sumbawa memiliki potensi besar, yaitu Teluk Saleh, Pulau Moyo, dan Gunung Tambora atau disebut Kawasan Wisata Samota. Lokasi pulau juga strategis karena dua destinasi, yakni Lombok dan Labuan Bajo.

Lebih dekat

Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Fauzal mengakui rendahnya kunjungan ke Pulau Sumbawa.

Menurut dia, konektivitas antardaerah di pulau terbesar NTB itu menjadi masalah utama pengembangan pariwisata. Fasilitas dua bandar udara di Sumbawa Besar dan Kota Bima pun terbatas.

Padahal, Pulau Komodo, misalnya, lebih dekat dari Sape dibandingkan dari Labuan Bajo. Carlos, pengemudi perahu wisata sewaan di Labuan Bajo, menyebutkan, dari Labuan Bajo ke Pulau Komodo butuh tiga jam, sedangkan dari Sape cuma dua jam.

Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan pada seminar bertajuk ”Investasi guna Mendorong Pariwisata Pulau Sumbawa”, Kamis (23/3/2017), di Jakarta, menyebutkan, masih banyak infrastruktur dasar yang perlu dibangun.

Indra (24) memanggul karung beras yang disebut dalam bahasa setempat Ampa Fare di halaman Uma Lengge di Wawo, Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (31/3/2017). Uma Lengge yang merupakan lumbung-lumbung padi ini miliki banyak nilai kearifan lokal mulai sistem ketahanan pangan hingga mitigasi bencana bagi warga yang diwariskan sejak ratusan tahun.(KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Dia meminta pemda menyiapkan sarana dan prasarana, antara lain terkait kebersihan lokasi wisata.

Wakil Gubernur NTB Muhammad Amin dalam seminar itu mengakui kesenjangan antara Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.

Untuk mengembangkan pariwisata di Pulau Sumbawa, infrastruktur dasar, seperti listrik, perlu ditingkatkan. Akomodasi di Sumbawa juga belum selengkap di Lombok.

Festival

Terkait upaya peningkatan kunjungan wisatawan, akan digelar Festival Pesona Tambora 2017 pada 5-11 April. Festival ini merupakan kelanjutan acara serupa, yakni Tambora Menyapa Dunia 2015 dan Festival Pesona Tambora 2016.

Beragam acara digelar di lima wilayah pulau itu, yakni di Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima.

Salah satu acara yang digelar adalah lomba balap ayam (barapan ayam) pada 5 April di Pototano, Sumbawa Barat. Adapun puncak acara dari rangkaian Festival Tambora 2017 adalah peresmian pabrik gula di daerah Doropeti, Kabupaten Dompu.

Puluhan perahu motor cepat diparkir di perairan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Kamis (30/3/2017) sore. Alat transportasi laut itu digunakan untuk melayani wisatawan berkunjung ke sejumlah destinasi menawan di kawasan itu, seperti Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar. (KOMPAS/AGUS MULYADI)

Seperti tahun 2015 dan 2016, perhatian akan tertuju pada lomba lari 320 kilometer yang dimulai di Pototano. Lokasi finis sama seperti dua lomba sebelumnya, di Doro Ncanga, di kaki Gunung Tambora, Dompu.

Sebanyak 15 pelari telah mendaftar. Salah satu peserta adalah juara tahun 2016, Matheos Berhitu (46) asal Ambon, Maluku.

Tahun ini, untuk pertama kalinya dilombakan lari 320K relai. Dua pelari dalam satu tim bergantian menempuh jarak 320 kilometer. Pelari pertama dilanjutkan pelari kedua mulai kilometer 160. Lima tim mendaftar dalam lomba ini.

Laju para pelari diharapkan mendorong pula laju Pulau Sumbawa membangun pariwisata agar sejajar dengan Lombok dan Labuan Bajo, Flores. (KOMPAS/AGUS MULYADI)

http://travel.kompas.com

Wednesday, 5 April 2017

Titanic van Bantul


Kalau kapal Titanic berada di atas laut, nah kalau Titanic yang ada di Bantul, Yogyakarta ini berada di atas awan lho. Mau tahu seperti apa penampakan Titanic Van Bantul ini, yuk tonton dalam video Brilio.net berikut.
(brl/red)
https://www.brilio.net/video/

Monday, 3 April 2017

"Ayo ke Pulau Sumba..."

Perempuan Sumba di Kampung tradisional Prai Ijing, Desa Tebar, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur sedang memikul periuk tanah. Ini merupakan atraksi budaya yang diperlihatkan kepada wisatawan yang berkunjung ke kampung tersebut. Para fotografer sangat suka memotret di kampung itu karena keaslian dan keunikan rumah adat serta warganya yang memikul periuk tanah.

KOMPAS.com - Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur (NTT) terkenal dengan padang savana, atraksi budaya Pasola, dan perkampungan tradisional yang masih asli.

Selain itu, pulau yang memiliki keunikan alam ini memiliki kawasan Taman Nasional (TN) Menupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (MataLawa).

Saat ini Pulau Sumba membutuhkan konektivitas pengembangan pariwisata berbasis ekologi dan budaya.
KOMPAS.COM/MARKUS MAKURPesawat Garuda Indonesia dari Bali mendarat di Bandara Udara Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, Kamis (24/3/2017). Bandara Tambolaka sebagai pintu masuk ke Pulau Sumba dari arah Barat.
Bahkan, kawasan Nihiwatu di mana terdapat hotel terbaik di dunia tahun 2016 menjadi tempat berlibur wisatawan mancanegara.

Konsep konektivitas itu adalah wisatawan mancanegara dan Nusantara yang berkunjung ke Pulau Sumba yang bermula dari wilayah Sumba Barat Daya sampai ke Sumba Timur dapat mengunjungi obyek-obyek wisata yang terunik di Pulau Sumba di mana warga lokal memperoleh keuntungan dari kunjungan tersebut.

TN Menupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti memiliki keunikan-keunikan yang tak dimiliki oleh kabupaten lain di NTT.
KOMPAS.COM/MARKUS MAKURUcapan Selamat Datang di Sumba Barat Daya di pintu gerbang Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Ini merupakan pintu masuk dalam menjelajahi Pulau Sumba dari Barat ke Timur, Kamis (24/3/2017).
Contohnya tempat surga burung endemik, air terjun yang tertinggi di NTT, padang savana terunik di dunia, ritual-ritual adat yang langka serta manusia langka di dunia, bahkan ritual-ritual menguburkan jenazah yang unik.

Jika Anda berpetualang ke Pulau Sumba, bersiaplah menemukan keunikan-keunikan tersendiri, mulai dari kuda liar yang hidup di padang savana, pengembalaan kerbau dan sapi secara liar.

Ditambah lagi perkampungan-perkampungan tradisional yang langka dengan manusia Sumba yang menganut agama asli yang hidup di pegunungan dan lembah yang disebut kepercayaan Marapu.
KOMPAS.COM/MARKUS MAKURKampung adat Prai Ijing, Desa Tebar, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur menjadi kampung yang selalu dikunjungi wisatawan asing dan Nusantara, Jumat (24/3/2017). Artisektur rumah adat yang unik ini menjadi daya tarik wisatawan. Rumah adat ini akan dikembangkan sebagai pariwisata berbasis budaya dan ekologi di Kabupaten Sumba Barat.
Demikian disampaikan Kepala Balai Taman Nasional Menupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (MataLawa), Maman Surahman kepada KompasTravel di Waingapu, Sabtu (25/3/2017).

Surahman menjelaskan, TN Menupeu Tanah Daru dan Taman Nasional Laiwangi Wanggameti di Pulau Sumba masuk tiga kabupaten yakni Sumba Barat, Sumba Tengah, dan Sumba Timur.

Kedua TN ini digabung menjadi satu yaitu TN Menupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (MataLawa) sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan lingkungan hidup RI Nomor P.7/Menlhk/Setjen/OTL.0/2016, dengan luas 90.142 hektare.
KOMPAS.COM/MARKUS MAKURWisatawan di Kampung Adat Prai Ijing, Desa Tebar, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur menjadi kampung yang selalu dikunjungi wisatawan asing dan Nusantara, Jumat (24/3/2017).
Menurut Surahman, penggabungan dua TN ini memberikan peluang kepada pihaknya untuk mengembangkan pariwisata berbasis ekologi dan budaya sehingga keajaiban-keajaiban budaya, alam dan manusianya memperoleh dampak bagi peningkatan ekonomi masyarakat.

Dua TN ini menjadi tempat yang selalu dikunjungi wisatawan untuk melihat keunikan-keunikan delapan burung endemik Pulau Sumba, air terjun, keunikan-keunikan goa, puncak gunung Wanggameti yang tertinggi di Pulau Sumba, juga padang savana.

“Saya diberikan kepercayaan menjadi Kepala Taman Nasional di Pulau Sumba untuk mengembangkan keunikan-keunikan alam dan budaya yang unik serta mempromosikan secara luas agar wisatawan asing dan Nusantara mengunjungi pulau ini. Pulau ini masih tersembunyi di bumi Nusa Tenggara Timur karena kurang promosi,” katanya.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKURSeorang perempuan Sumba Barat di Kampung Prai Ijing, Desa Tebar, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur sedang menenun kain sumba untuk kebutuhan keluarganya. Kain sumba ini dijual kepada wisatawan maupun warga setempat. Harga kain sumba berkisar dari Rp 300.000 sampai Rp 2.500.000 sesuai dengan motifnya. Hasil jual kain sumba untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dari warga Sumba.
Surahman memaparkan, TN MataLawa menjadi penopang kehidupan warga masyarakat di Pulau Sumba, seperti pembangkit Daerah Air Minum alam (PDAM alam), sumber air minum untuk warga di Pulau Sumba, sumber air untuk lahan pertanian dan persawahan di Pulau Sumba bahkan sebagai sumber energi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang sudah berfungsi di beberapa aliran sungai besar.

“Taman Nasional MataLawa memiliki sekitar 20 sungai besar yang berhulu di dalam kawasan taman nasional tersebut.  Terdapat 84 jenis burung, 10 jenis mamalia, 49 jenis kupu-kupu, 29 jenis reptil dan amfibi, 10 jenis mamalia, 173 jenis pohon, herbal dan tumbuhan bawah, serta 49 paku-pakuan,” jelasnya.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKURAnak-anak Pulau Sumba dengan latar belakang padang savana Waerinding di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Menjelajahi Pulau Sumba yang masih tersembunyi memberikan nilai tersendiri bagi wisatawan mancanegara dan Nusantara.
Ketua Bidang Ekotourism di Kawasan Konservasi Pusat sekaligus Tim Percepatan Pengembangan Ekowisata di dalam Kawasan Konservasi, Suwartono kepada KompasTravel di Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat, Jumat (24/3/2017) menjelaskan, Pulau Sumba sangat layak untuk pengembangan wisata berbasis budaya, bahari dan alam.

Khusus untuk wisatawan ekologi, pulau ini dijadikan tempat festival bird watching, adventure di seluruh Pulau Sumba,  serta wisata goa-goa alam.

Suwartono menjelaskan, Pulau Sumba memiliki kekhasan unik seperti keunikan ekosistem padang savana, lanskap, dan hutan yang masih asli dan sejumlah air terjun yang memukau.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKURTanduk kerbau dipajang di rumah adat Sumba, Nusa Tenggara Timur, Jumat (24/3/2017).
“Lembaga Bird Life Internasional sudah menetapkan kawasan Taman Nasional MataLawa sebagai important bird area karena ada 10 burung endemik Sumba seperti kakatua jambul kuning. Mari kita promosikan agar Pulau Sumba menjadi tujuan utama pariwisata di mana terdapat kawasan Nihiwatu sebagai hotel terbaik di dunia,” paparnya.

Untuk menunjang itu, lanjut Suwartono, dibutuhkan dukungan pemerintah untuk akses yang bagus, fasilitas akomodasi standar internasional, dukungan dari masyarakat setempat untuk menerima pengembangan wisata ekologi dan budaya.

Selain itu, perlu juga disiapkan orang-orang lokal dengan sumber daya manusia yang baik untuk pelayanan yang prima kepada tamu sesuai standar-standar pelayanan di daerah wisata. Orang lokal harus terlibat dalam industri pariwisata untuk kemajuan Pulau Sumba.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKURKampung adat Prai Ijing, Desa Tebar, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur menjadi kampung yang selalu dikunjungi wisatawan asing dan Nusantara, Jumat (24/3/2017). Artisektur rumah adat yang unik ini menjadi daya tarik wisatawan.
“Saya berada di Sumba untuk melakukan survei dan memberikan konsep tentang pengembangan wisata berbasis ekologi dan budaya serta adventure. Ada tiga air terjun besar di Pulau Sumba yakni Air Terjun Lapopu, Laputi, dan Matayangu,” katanya.

Suwartono mempromosikan "Ayo ke Pulau Sumba" dan merasakan keunikan-keunikan yang dimiliki oleh orang Sumba dan alamnya di dalam kawasan TN MataLawa.


Penulis: Kontributor Manggarai, Markus Makur
Editor: I Made Asdhiana

5 Pantai Indah di Maluku yang Wajib Dikunjungi Saat Liburan

Pantai Ora adalah pantai paling indah di kawasan Maluku. Meski begitu, ada empat pantai lagi yang tak kalah cantiknya dari pantai ini dan wajib dikunjungi. (Sofitel.com)

JAKARTA - Potensi keindahan alam Indonesia bagian timur ini sudah diakui indah banyak wisatawan. Tak heran jika sebagian di antaranya menjadi destinasi terbaik untuk berlibur. Bahkan, belakangan ini semakin banyak wisatawan mengarahkan tujuannya ke sana.

Salah satunya kepulauan Maluku yang sudah lama terkenal dengan pantainya yang cantik dan alam bawah laut yang memukau. Jika Provinsi Maluku dan Maluku Utara sudah di dalam bucketlist Anda, pastikan lima pantai terindah ini ada di dalam itinerary. Berikut lima pantai terindah di Maluku yang wajib dikunjungi seperti dikutip dari Skyscanner.

1. Pantai Ora, Maluku
Pantai Ora, Maluku
Terletak sekitar 4 jam perjalanan laut dan darat dari Ambon, pantai ini merupakan satu dari sekian banyak pantai di Maluku yang terkenal. Di sini Anda bisa menemukan resort yang berada di atas laut dengan terumbu karang yang cantik dan tampak jelas dari atas perairan, Tempat ini telah banyak menyihir mata wisatawan yang melihatnya untuk kemudian memasukkannya ke dalam bucketlist mereka.

2. Pantai Pulau Guraici, Maluku Utara

Pantai Pulau Guraici, Maluku Utara
Pulau kecil yang menjadi bagian dari Kepulauan Guraici di Halmahera Selatan ini sangat ikonik, terutama ketika salah satu fotografer internasional mengambil fotonya dengan sebuah drone. Pulau kecil yang tampak sendirian ini memberikan kesan tenang. Mungkin hal inilah yang menjadikan pulau ini begitu terkenal hingga ke mancanegara.

3. Pantai Ngurtafur, Maluku
Pantai Ngurtafur, Maluku
Meski berbeda karakteristik dan lokasi, namun popularitas pantai ini sanggup membuat banyak orang lupa akan Pantai Ora. Terletak di Kabupaten Maluku Tenggara, pantai ini memiliki pasir timbul yang memanjang hingga 2 kilometer ke tengah laut. Jika datang di waktu yang tepat, Anda akan bisa melihat kawanan pelikan yang sedang bermigrasi singgah di pulau pantai ini.

4. Pantai Teluk Hol Sulamadaha, Maluku Utara

Pantai Teluk Hol Sulamadaha, Maluku Utara
Tak jauh dari pusat kota Ternate, terdapat sebuah pantai cantik yang fotonya menjadi viral karena airnya yang sangat bening seperti kaca. Karena lokasi yang tak jauh dari pusat kota, Anda harus menghindari pergi di hari Minggu jika ingin ke sini dan menikmatinya tanpa penuh orang.

5. Pantai di Kepulauan Banda, Maluku

Pantai di Kepulauan Banda, Maluku
Kepulauan Banda memiliki alam dan budaya yang sangat cantik. Untuk bisa menikmati semua pesonanya, Anda membutuhkan tenaga ekstra karena Kepulauan Banda belum memiliki penerbangan reguler ke bandara kecilnya. Penerbangan yang tersedia hanyalah penerbangan perintis untuk 15 orang sebanyak dua kali seminggu dari Ambon. Namun alternatifnya, Anda bisa menggunakan kapal PELNI dari Ambon. 



(alv)
https://lifestyle.sindonews.com

Masjid Kapal Nabi Nuh, obyek wisata baru di Semarang


Brilio.net - Jika berkunjung ke Semarang jangan lupa mampir ke masjid unik ini. Masjid ini dikenal dengan sebutan "Masjid Kapal Bahtera Nabi Nuh". Ya, disebut masjid kapal karena bentuknya seperti kapal. Persisnya menggambarkan kapal Bahtera Nabi Nuh yang menyelamatkan umatnya saat negerinya diterjang banjir bandang.
Masjid unik ini berada di kampung pinggiran Semarang wilayah Barat. Tepatnya di Jln Kyai Padak RT 5/RW 5, Kelurahan Podorejo kecamatan Ngaliyan kota Semarang, Jawa Tengah. Sekitar 15 kilometer dari bandara A Yani. Di kampung dekat hutan itulah seorang kyai bernama Achmad membangun masjid unik ini seluas 2.500 meter persegi.
Masjid ini berbentuk mirip kapal memanjang berlantai tiga. Karena keunikannya, masjid ini langsung viral di media sosial. Orang orang mengunjunginya. Lantai pertama masjid ini digunakan sebagai ruang pertemuan, lantai dua untuk masjid, dan lantai tiga untuk aktifitas mengajar dan balai kerja.
Husein, orang yang dipercaya mengawasi proyek masjid menjelaskan bahwa pemilik masjid, Kyai Achmad memang punya mimpi membuat masjid mirip kapal Nabi Nuh.
"Jadi sambil mengingat sejarah, untuk kembali mengajak mengingat Tuhan, maka dibuatlah masjid ini. Proses pembangunan sudah 90 persen," katanya melalui siaran pers, Senin (27/3).
Pesan Kyai Achmad jika masjid sudah jadi bisa dimanfaatkan warga secara gratis untuk pertemuan, hajatan, atau resepsi pernikahan. Kyai Achmad merupakan ulama Semarang yang juga seorang guru agama.
Masjid seluas 2.500 m2 itu dibangun layaknya perahu dengan panjang 50 m, lebar 17 m, dan tinggi 14 meter. Memiliki bentuk kapal besar lengkap dengan jendela berbentuk bulat, puritan, haluan, dan asesoris kapal lainnya. Masjid ini akan dinamai As Safinatun Najah oleh pemiliknya. Nanti akan ada bangunan klinik di sebelah kiri, dan asrama putri di belakang. Selama pengerjaan telah melibatkan 40 tukang, dan sudah berlangsung 1,5 tahun. Bahan bangunan batu bata dengan total biaya sudah Rp 5,5 miliyar.
"Jadi nanti bangunan kapal memiliki enam pintu utama di samping kanan dan kiri dan memiliki 74 bendera berbentuk bulat, digambar oleh seorang arsitek," tambahnya.
Aksesoris lainnya akan dibangun kolam air di pinggir bangunan agar benar-benar nampak seperti di lautan. Karena keunikannya, Husein tak menampik jika kedepan tempat ini menjadi sebuah destinasi wisata religi. Sekarang saja meski belum sepenuhnya jadi sudah banyak warga yang datang untuk melihat dan berfoto. Jika memang menjadi wisata religi, pihaknya berharap ada perbaikan jalan menuju Podorejo. Karena akses jalan yang ada saat ini masih sangat sempit.
Keunikan lain masjid ini berada di tengah area hutan dan sawah menjadi oase tersendiri bagi pengunjung. Rubai (55), pengunjung dari Jatingaleh Semarang mengaku penasaran dengan masjid kapal besar yang ada di pelosok hutan. Dia kagum dan bangga, konsep anti mainstream membuat desain masjid bisa diterapkan dan malah disukai banyak orang.
"Tiga lantai semua bagus arsiteknya, semoga Islam bisa berkembang di sini dengan bagus," ujarnya. Widya Sari (19), mahasiswi salah satu akademi kesehatan di Semarang juga mendatangi masjid kapal ini karena penasaran.
Bersama lima kawannya Widya langsung berfoto selfie mengabadikan momen berkunjungnya. Baginya berfoto selfie menjadi wajib sebagai bukti dia pernah berkunjung.
"Tahunya dari Instagram dan kawan-kawan, jadi ya jangan kalah juga berfoto-foto disini," tukasnya.
Kabid Pembinaan Industri Pariwisata Kota Semarang Giarsito Sapto menyambut baik berdirinya masjid ini. Karena keunikannya dia optimis akan menjadi daya tarik wisata religi masyarakat.
"Pemkot memang akan mengembangkan wisata religi. Ini obyek yang unik," ujarnya.
https://www.brilio.net

Kesehatan

Pendidikan

Hiburan

Pictures

Kesehatan

Perusahaan Anda butuh SEO?

Perusahaan Anda butuh SEO?

Sebenernya apa sih manfaat SEO untuk bisnis : Meningkatkan kunjungan web dari mesin mencari Meningkatkan Brand Awarness Meningkatkan...

Total Pageviews

Berita

Archive

  • Latest News

    Category

    728x90 AdSpace

    Fashion

    Pariwisata

    Unik

    Pariwisata

    Wanita

    Kuliner

    Popular Posts

    Find Us On Facebook

    Flickr

    Link