Monday, 2 June 2014

2.000 Marinir Bergerak Ke Sasaran Latgab


SURABAYA-(IDB) : Sekitar 2.000 pasukan Marinir TNI AL diberangkatkan menggunakan kapal perang RI untuk bergerak menuju sasaran, khususnya untuk pendaratan amfibi pada Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2014 yang dipusatkan di Pusat Latihan Tempur Marinir Asembagus, Situbondo, Jatim.

"Untuk pasukan Marinir, sudah diberangkatkan semua yang dilakukan secara bertahap. Terakhir pemberangkatan dilakukan, hari ini dari Dermaga Koarmatim, Surabaya, menuju Pantai Banongan, selain ada yang diberangkatkan menggunakan jalur darat," kata Kadispen Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Letkol Laut (KH) Abdul Kadir sebelum pemberangkatan pasukan Marinir di Surabaya, Senin.

Ia menjelaskan, selain prajurit infanteri yang akan melakukan serangan dari kapal perang, Marinir juga membawa sejumlah alat tempur, seperti tank dari satuan kavaleri dan senjata berat dari artileri medan pada Latgab TNI yang dipimpin oleh Dirlat Letjen TNI Lodewijk F Paulus yang juga Komandan Komando Pendidikan dan Latihan TNI AD tersebut.

Menurut dia, di luar pemberangkatan pasukan ke medan latihan, aktivitas awak kapal perang di Koarmatim saat ini adalah melakukan embarksi sejumlah peralatan yang akan dibawa ke lokasi latihan. Dijadwalkan sejumlah kapal akan bertolak ke perairan Laut Jawa, Selasa (3/6) untuk melaksanakan latihan pertempuran laut sambil melaju menuju perairan Banongan di Asembagus.

Sementara itu TNI AL menggerakkan 35 kapal perang dari berbagai jenis dan tipe, termasuk satu dari dua kapal selam yang dimiliki Indonesia. Kapal lainnya adalah enam jenis perusak kawal (PK), 12 perusak kawal rudal (PKR), empat kapal cepat rudal (KCR), satu kapal cepat torpedo (KCT), dua kapal "landing platfrom dock" (LPD), empat "landing ship tank" (LST), dua kapal patroli cepat dan satu kapal buru ranjau serta dua kapal lainnya.

Pada Latgab yang melibatkan 15.108 personel dari ketiga angkatan itu, TNI AD membawa 49 kendaraan tempur, terdiri atas 18 tank Scorpion, enam tank Stormer APC, dua tank Stormer Komando, dua panser Saladin, dua panser Saracen, dua pancer pengintai, dan 12 panser Anoa (buatan Pindad).

Selain itu juga melibatkan sejumlah senjata berat maupun ringan yang dioperasikan oleh satuan artileri. Dari Penerbangan TNI AD dikerahkan empat unit helikopter Bolco, 10 unit Bell-412 dan dua unit Bell-205A-1.

Sementara dari TNI AU melibatkan puluhan pesawat tempur dan pesawat angkut, yang terdiri atas empat pesawat B-737, tiga pesawat F-28, tiga C-295, dua CN-235, tiga Cassa-212 dan 11 helikopter, enam pesawat F-16, 10 pesawat Hawk 100/200, dua F-5, 12 T-50, dua EMB-314 serta alat utama sistem senjata lainnya.

Hingga kini sejumlah satuan telah melaksanakan latihan penyerangan terhadap pertahanan musuh, namun masih bersifat parsial. Penyerangan gabungan dari seluruh kekuatan akan dilaksanakan pada puncak latihan, 4 Juni 2014 di kawasan Karang Tekok, Asembagus, Situbondo.



Sumber : Antara

Peluang China Peroleh Su-35 Rusia Kian Terbuka


Rusia dan China telah mempererat hubungan mereka yang belakangan ini terkesan berjalan di tempat. Kerjasama multi tahun yaitu kerjasama gas alam senilai miliaran dolar dan kolaborasi kedua negara dalam pengembangan pesawat komersial berbadan besar adalah dua dari beberapa rencana perjanjian yang dibicarakan selama pertemuan presiden kedua negara, Vladimir Putin dan Xi Jinping, bulan lalu. Terkait rencana pembelian pesawat tempur Sukhoi Su-35 yang sempat beberapa kali tertunda, hal ini juga dibicarakan, namun keputusan pastinya kemungkinan baru akan keluar pada kuartal akhir tahun ini.



Pembelian China atas Su-35, pesawat tempur hasil pengembangan terbaru dari varian Su-27 Flanker, akan memberikan manfaat yang besar bagi China. Selain kekuatan tempur udara China akan semakin kuat dengan kehadiran Su-35, Su-35 juga akan menjadi tolok ukur bagi China dalam mengukur kemajuannya dalam mengembangkan pesawat tempur sendiri. Tidak hanya itu, kehadiran Su-35 akan memberikan China akses ke teknologi mesin turbofan Su-35 dan potensi upgrade berbagai rudal udara-ke-udara dan udara ke permukaan buatan Rusia. Kita tahu selama ini China berusaha keras dan beberapa kali gagal dalam upayanya meningkatkan kinerja dan keandalan mesin-mesin pesawat tempurnya. 


Dialog kedua negara soal pembelian Su-35 sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu, namun karena beberapa alasan, Rusia akhirnya menunda penjualannya. China sendiri mengharapkan pembelian Su-35 awal sebanyak 24 unit, yang akan cukup membentuk skadron tunggal. Ketika Angkatan Udara China (PLAAF) membeli Flanker asli pada tahun 1991, mereka mengawalinya dengan 24 unit, lalu dilanjutkan dengan batch tambahan, baru akhirnya China bisa membuat varian Flanker-nya sendiri yaitu J-11B.



Pengembangan independen China atas varian Su-27 yang lengkap dengan avionik, radar, mesin, dan senjata buatan sendiri telah menciptakan gesekan dengan Moskow, yang akhirnya Moskow mengerem penjualan banyak senjata ke China. Dari perspektif Rusia, salah satu upaya peniruan China atas produk militer Rusia yang paling mengerikan adalah pesawat tempur J-15, yang sangat mirip dengan Su-33 varian dari Su-27 khusus Angkatan Laut (untuk kapal induk), yang mana China memperolehnya dari Ukraina.



Meskipun "sakit hati," sekarang Moskow tampaknya masih ingin melanjutkan penjualan pesawat tempur canggih kepada China, meskipun bukan pesawat tempur generasi kelima yang saat ini dikembangkan Rusia. Analis menilai sikap lunak Moskow ini mungkin terkait dengan keuangan, selain tentunya keinginan Moskow untuk terus mempertahankan hubungan pertahanan dan politik dengan Beijing. 


Penjualan Su-35 kepada China juga akan memberikan kesempatan bagi perusahaan pembuat rudal Rusia Tactical Missiles Corporation (KTRV) untuk menyediakan paket rudal baru dan paket upgrade terhadap rudal-rudal Rusia yang dimiliki China saat ini. Rudal-rudal ini antara lain RVV-SD atau versi ekspor dari rudal R-77-1 yang merupakan upgrade dari rudal udara-ke-udara R-77 (AA-12 Adder) dan rudal jarak pendek RVV-MD, versi ekspor dari rudal R-73 (AA-11 Archer). Tactical Missiles Corporation juga pernah menampilkan ilustrasi Su-35 yang membawa rudal RVV-BD, varian ekspor dari rudal udara-ke-udara jarak jauh R-37M (AA-13 Axehead). Sebelumnya pejabat Tactical Missiles Corporation mengusulkan agar rudal-rudal ini juga disertakan dalam paket pembelian Su-35, meskipun mereka tidak menjelaskan untuk penjualan kepada negara mana.




Sumber : Artileri

10 Pesawat Tempur T-50 Unjuk Kekuatan Di Latgab


SITUBONDO-(IDB) : Sebanyak 10 pesawat latih tempur T50 buatan Korea Selatan yang baru bergabung dengan TNI AU, akan unjuk kekuatan pada Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2014, di Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

"Pesawat-pesawat ini akan melakukan pengeboman saat latihan puncak nanti bersama dengan pesawat tempur yang lain," kata Komandan Pangkalan TNI AU Surabaya Kolonel (Pnb) Mujianto, di Surabaya, Senin.

Pesawat-pesawat dengan warna dasar biru kuning tersebut, jelas Kolonel Mujianto, siap di Pangkalan TNI AU Surabaya, dan pada puncak latihan 4 Juni, akan terbang ke daerah sasaran yang merupakan pusat kegiatan Latgab 2014, di Pusat Latihan Tempur Marinir, di Asembagus.

Selain T50, kata Kolonel Mujianto, TNI AU juga mengerahkan pesawat tempur Hawk-100 dan Hawk-200 masing-masing 10 unit, F-5 Tiger empat unit, Sukhoi delapan unit dan F-16 sebanyak satu skuadron.

Di luar T50, seluruhnya siaga di pangkalan masing-masing dan saat simulasi penyerangan seluruhnya akan diberangkatkan dari Pangkalan TNI AU Surabaya.

Mujianto menjelaskan bahwa selain menjadi markas pesawat tempur, pangkalannya juga menjadi tempat pesawat-pesawat VIP yang ditumpangi para pejabat untuk menyaksikan latihan puncak.




Sumber : Antara

Korps Marinir Turunkan Sejumlah Alutsista pada Latgab TNI 2014


Sejumlah prajurit dengan kendaraan tempur mempersiapkan perlengkapan di Pusat Latihan Tempur Marinir, di Asembagus, Situbondo, Jatim, Senin (2/6). Sebanyak 27 tank Scorpion, 29 BMP 3F, dan 36 BTR 50 P dilibatkan Dalam Latihan Gabungan TNI 2014. (Foto: ANTARA FOTO/Joko Sulistyo/Asf/mes/14)

02 Juni 2014, Jakarta: Sejumlah kekuatan tempur Korps Marinir dilibatkan dalam gladi Latihan Lapangan di Pusat Latihan Tempur Marinir di Banongan dan Karang Tekok serta Baluran, Situbondo, Jawa Timur dan sekitarnya, Minggu (01/06/2014).

Gladi lapangan yang digelar menjelang pelaksanaan Latgab TNI 2014 pada Rabu mendatang, bertujuan untuk menguji taktik dan tehnik di lapangan segala sesuatu yang sudah direncanakan dalam Tahap Gladi Posko yang sudah terlaksana sebelumnya, juga sebagai ajang uji coba terakhir kesenjataan dan material tempur TNI serta pasukan yang terlibat pada saat pelaksanaan.
(Foto: Marinir)

Dalam gladi tersebut Korps Marinir mengerahkan pasukan infanteri yang didukung sejumlah peralatan tempurnya seperti Roket Multi Laras RM-70 Grad, Howitzer 105 mm, Tank BMP-3F, Tank PT-76 dan Ranratfib BTR-50P. Kekuatan Korps Marinir ini terintegrasi dengan kekuatan peserta Latgab lainnya seperti TNI AD yang mengeluarkan helikopter tempur, tank serta artileri medan dan TNI AU yang mengerahkan jet-jet tempur dan helikopternya.

Kegiatan gladi ini disaksikan langsung oleh Dirlatgab TNI 2014 Letjen TNI Lodewijk F. Paulus dari ketinggian T-12 yang terletak di kawasan Baluran. Selama ini Ketinggian T-12 yang masuk wilayah Puslatpur Marinir Baluran dijadikan sarana untuk memantau kegiatan latihan.

Sumber: Marinir

Sunday, 1 June 2014

PLA Could Commission Four Carrier Battle Groups: Kanwa


31 Mei 2014


DDG & FFG escort vessels for the Liaoning Carrier (photo : Jeffhead)

The People's Liberation Army Navy will commission between three and four carrier battle groups over the next 15 years, reports the latest issue of Kanwa Defense Review, a military magazine run by Andrei Chang also known as Pinkov, a defense expert from Canada.

Photos on the internet revealed new facilities and vehicles on the Liaoning, China's first aircraft carrier which is now undergoing maintenance at Dalian Shipyard. The magazine called this evidence that the PLA Navy has gained more experience in operating an aircraft carrier in the 18 months since the Liaoning was commissioned.

China is also quicker at constructing large surface combat vessels than the United States, according to the magazine, which stated that China already has plans to build two domestic aircraft carriers after the Liaoning. Over the next 15 years, the PLA Navy may be able to maintain four carrier battle groups. For the US Navy, meanwhile, there is currently debate over whether it is necessary to keep 11 aircraft carriers in active service.

Through gaining more diesel-electric submarines from Russia or producing them domestically, the PLA Navy possesses enough underwater threat to take on the United States Navy in any potential conflict, Kanwa said. All of the diesel-electric submarines are equipped with air-independent propulsion systems, which allow a non-nuclear submarine to operate without the need to access atmospheric oxygen and to stay underwater for a longer period of time.

The nuclear strike capability of the PLA has increased dramatically with the DF-41 nuclear solid-fueled road-mobile intercontinental ballistic missile and the JL-2 intercontinental-range submarine-launched ballistic missile in service, the magazine said.

At the same time, China is producing more and more fourth-generation fighters such as the J-11B, the J-15, the J-16 and the J-10B. Kanwa Defense Review said that China has no intention of challenging US influence around the globe, however, it has enough air and naval forces to conduct an anti-access and area-denial strategy over the Taiwan Strait and the South China Sea.

(WantChinaTimes)

Kesehatan

Pendidikan

Hiburan

Pictures

Kesehatan

Perusahaan Anda butuh SEO?

Perusahaan Anda butuh SEO?

Sebenernya apa sih manfaat SEO untuk bisnis : Meningkatkan kunjungan web dari mesin mencari Meningkatkan Brand Awarness Meningkatkan...

Total Pageviews

Berita

Archive

  • Latest News

    Category

    728x90 AdSpace

    Fashion

    Pariwisata

    Unik

    Pariwisata

    Wanita

    Kuliner

    Popular Posts

    Find Us On Facebook

    Flickr

    Link